Rabu, 17 Maret 2021

BIMTEK KADES DAN KADUS

Kepala Desa Buduk Sempadang, Juanda, S. TP mengikuti Bimbingan Teknis Sinergitas Kepala Desa dan Kepala Dusun di Hotel Kapuas Palace Pontianak dari tanggal 16 sampai 18 Maret 2021.


Kamis, 19 Oktober 2017

Pemuda di Segala Zaman

Pemuda di Segala Zaman. Judul buku yang merupakan karya pertama Juanda Rusli Latief ini membahas kompleksitas permasalahan yang berkaitan dengan pemuda. Kemudian juga berupaya memberikan opsi dan solusi yang dapat ditempuh oleh pemuda dalam menjalani hidup dan kehidupannya.
Ia menegaskan di dalam bukunya bahwa pemuda dengan sederet potensi yang dimilikinya, haruslah mampu memaksimalkan dirinya agar bermanfaat bagi kehidupan orang banyak.
Buku ini juga menyoroti gaya hidup kebanyakan pemuda masa kini, yang cenderung bersikap egosis dan tak mau tau terhadap kehidupan dan realitas sosial di sekelilingnya.

Senin, 20 Maret 2017

Karyawati yang Mendapat Perlakuan "unik dari Atasannya

Seorang karyawati, memberanikan diri bertanya kepada atasannya, mengapa dia belum juga dinaikkan pangkatnya. Tapi dia malah mendapat perlakuan seperti ini...

== Sukses ==

Dua Cewek Dapat "Kerjaan Sama" Dari Bos, Siapa Sangka yang Satu Naik Pangkat, Satu Lagi Malah Dapet "Email Kayak Gini"!!

Yuni adaah seorang muda yang cantik, dia sudah bekerja di perusahaan ini selama 3 tahun, tapi orang-orang baru yang belum bekerja lama saja sudah naik pangkat, sedangkan dia sama sekali tidak, tentunya dia merasa sangat kecewa.

Sampai suatu hari, dia akhirnya memberanikan diri bertanya pada bosnya, "Pak, apa saya pernah terlambat, pulang duluan atau mengacaukan kantor?" Bosnya langsung menjawab, "Tidak pernah."

"Kalau gitu, apa perusahaan ini pilih kasih?" Lanjut Yuni. Bosnya berhenti sebentar, kemudian menjawab, "Tentu tidak."

 "Kalau gitu, kenapa pegawai yang baru masuk kok bisa dipromosikan, sedangkan saya tetap di posisi yang sama?"

 Bosnya diam sejenak, kemudian tersenyum sambil berkata, "Masalah kamu ini nanti kita bicarakan, aku ada hal yang lebih penting sekarang, atau kamu mau bantu?"

 "Ada klien yang mau datang ke sini, coba kamu tanya dia kapan datangnya." Lanjut bosnya.

 "Ini benar-benar pekerjaan penting ya.." Sebelum keluar, Yuni menambahkan

 Satu jam kemudian, ia kembali ke ruangan bosnya.

  "Udah dikontak?" tanya bos

"Udah, katanya mungkin minggu depan akan datang." Jawab Yuni

 "Pastinya hari apa?" Tanya bosnya lagi

"Ini saya gak tanya jelas.."

 "Mereka berapa orang yang datang?"

 "Ah! Bapak gak minta saya tanya tadi.."

 "Kalau gitu mereka datang naik apa? Kereta atau pesawat?"

 "Ini juga bapak gak minta saya tanya.."

Bosnya tidak lagi berkata apa-apa, kemudian dia mengangkat telepon dan memanggil Jesy, yang baru masuk ke kantor selama 1 tahun, tapi dia sudah menjabat sebagai supervisor.

 Jesy mendapatkan tugas yang sama persis. Hanya perlu beberapa menit saja, dia sudah kembali ke ruangan bosnya.

"Jadi begini pak" Jelas Jesy.. "Mereka akan datang hari jumat depan, naik pesawat jam 3 sore, kemungkinan jam 6 akan tiba, total 5 orang, akan dipimpin oleh manajer pemasaran, saya sudah menjelaskan pada mereka, kami akan meminta orang untuk menjemput mereka."

 "Selain itu, mereka berencana untuk datang selama 2 hari, mengenai shecdule mereka, nanti akan dibicarakan lagi bersama bapak. Untuk memudahkan, saya menyarankan untuk memesankan hotel di dekat kantor ini pak, kalau bapak setuju, saya akan memesan kamarnya."

 "Oh ya, minggu depan mungkin akan hujan, saya akan mengontak kembali klien tersebut, kalau sampai ada perubahan cuaca, saya akan langsung mengabari mereka."

Yuni berdiri di samping dan mukanya memerah, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Malam itu, Yuni mendapatkan sebuah email dari bosnya yang berisi demikian..

Yun, tidak peduli kamu bekerja di mana pun, kamu harus ingat hal ini!

Pertama, perusahaan tidak akan butuh orang santai, tim kerja tidak mau pemalas.

Kedua, waktu kamu bekerja, kamu jangan hanya memikirkan uang, kamu harus belajar agar dirimu itu memang senilai dengan uangnya.

Ketiga, tidak ada perusahaan yang membuatmu mudah mendapatkan uang.

Keempat, tidak ada pekerjaan yang selalu lancar, kamu harus bisa bersabar.

Kelima, kalau kamu tidak menghasilkan uang, hasilkanlah pengetahuan; kalau tidak menghasilkan pengetahuan, hasilkanlah pengalaman; kalau tidak menghasilkan pengalaman, hasilkanlah pengertian. Kalau kamu sudah menghasilkan semua itu, tidak mungkin kamu tidak menghasilkan uang.

Keenam, asalkan mengubah dahulu perilaku diri sendiri, baru bisa mengubah nasibmu. Asal kamu mengubah dahulu cara kamu bekerja, kamu baru bisa mendapatkan posisi yang tinggi.

Ketujuh, seringkali orang terburu-buru hanya karena usia yang menurut mereka seharusnya sudah bisa mendapatkan lebih, memikirkan banyak hal, tapi melakukan hanya sedikit.

Saat itulah Yuni tersadar, tidak ada orang yang begitu lahir langsung bisa melakukan banyak hal besar, mulai dari hal mudah dan biasa. Apa yang kamu bangun dari dirimu sendiri, itu yang bisa memutuskan masa depanmu.

 Pegawai yang baik bukanlah mereka yang dengan manis menunggu pekerjaan datang, tapi mereka yang secara aktif mengerti apa yang harus mereka lakukan dan dengan bertanggung jawab menyelesaikannya.

IF YOU WANT TO SUCCEED YOU CAN NOT BE AN ORDINARY MAN/WOMAN, BUT MUST BE AN EXTRAORDINARY MAN/WOMAN

Sumber: *copas wa*

Selasa, 24 Januari 2017

Syekh Ali Jaber pada acara Sambas Berdzikir









Minggu itu (22 Januari 2017), menjadi hari Minggu yang lebih istimewa dari hari biasanya. Berbeda dengan hari Minggu sebelum-sebelumnya, karena pada hari ini akan hadir ke kota Pemangakat, seorang Syekh dari Madinah al Munawarah yakni Syekh Ali Jaber yang sering kita saksikan ceramahnya di media-media televisi.
Sejak pagi banyak berlalu-lalang rombongan jamaah berbusana putih-putih, menuju Mesjid At Taqwa Pemangkat. Mereka datang dari segala penjuru, berduyun-duyun hendak menyimak tausyiah yang akan disampaikan Syekh.
Saya bersama istri pun tak mau kehilangan momentum istimewa ini, maka berangkatlah kami pagi-pagi dari rumah dengan semangat dan niat menuntut ilmu. Tiba di tempat acara sekitar jam 08.10 pagi, mesjid At Taqwa sudah hampir penuh, beruntung ada ayah saya yang datang lebih awal dan mengambil tempat di depan sehingga saya dapat menyusul dan duduk di shaf ke-4 dari depan.
Hari itu kam menyimak banyak sekali hikmah dan pelajaran yang disampaikan oleh Syekh, diantaranya adalah bagaimana upaya dakwah Islam yang dibawakan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW.
#Mesjid At Taqwa Pemangkat
#Syekh Ali Jaber
#Sambas Berdzikir

Kamis, 19 Januari 2017

Menakar Kualitas Pemuda Masa Kini

Realitas Pemuda Masa Kini

Arus globalisasi dan kemajuan teknologi yang super cepat, berdampak besar terhadap kondisi psikologis pemuda. Tersedianya beragam perangkat canggih seperti smartphone, akses internet yang semakin mudah dan cepat, media sosial yang makin beragam, dan berbagai perangkat lainnya memang menjadikan kehidupan zaman sekarang semakin tampak mudah dan menyenangkan. Betapa kemajuan teknologi ini telah menyulap dan mampu memperpendek jarak dan waktu. Kita akan dengan cepat mengetahui peristiwa yang terjadi di negara lain hanya dalam sekejap. Bahkan beberapa media mampu menghadirkan informasi secara real time. Kebutuhan akan pendidikan dan bahan bacaan pun kini semakin mudah diakses, hanya dengan klik dan enter maka semua informasi akan tersaji, sehingga memudahkan dan mempercepat berkembangnya pendidikan. Sehingga hal ini berdampak positif bagi berkembangnya minat, bakat dan keahlian pemuda. Dalam skala yang lebih lanjut juga berdampak pada tumbuhnya jenis lapangan kerja baru yang akan menekan angka pengangguran, menumbuhkan perekonomian, memperlancar perdagangan, serta memudahkan berbagai transaksi.
Namun di sisi lain, jika globalisasi yang terjadi sekarang ini tidak mampu disikapi dengan baik dan proporsional, ia juga berpotensi membawa beragam pengaruh negatif khususnya bagi generasi muda. Berbagai informasi yang disajikan internet hari ini misalnya, mulai dari mode pakaian, gadget dan alat elektronik yang super canggih, hingga informasi-informasi ekstrim tentang gerakan-gerakan agresi militer dan konflik di suatu negeri tersaji dengan begitu mudahnya sehingga secara tidak langsung akan melahirkan gaya hidup baru, membuat mereka menjadi lebih konsumtif, individualis dan bergaya hidup ke barat-baratan, hingga pada tingkat yang lebih parah mereka mulai melupakan dan tercerabut dari akar budayanya sendiri. Kemudahan akses internet dan derasnya transfer beragam informasi dari suatu daerah ke daerah lain, bahkan dari suatu Negara ke Negara lain sedikit banyak akan merubah pola pikir dan cara pandang kaum muda dalam melihat, menganalisa, kemudian menyimpulkan suatu kejadian atau permasalahan.
Globalisasi juga sedikit banyak membuat kaum muda menjadi terbuai dan terlena, lalu tenggelam dalam aktifitas hedonis. Kemudian mereka disibukkan oleh aktifitas-aktifitas yang sebenarnya tak terlalu penting untuk masa depannya, hingga tak jarang lupa akan tugas dan fungsi utamanya. Perlu diingat bahwasanya pengaruh globalisasi, kapitalisme, hedonisme, dan segala embel-embel yang mengikutinya terus membuat cengkraman kuat sehingga karakteristik bangsa secara perlahan-lahan akan dirong-rong dan mulai terkikis. Banyak contoh yang bisa dilihat bagaimana generasi muda sekarang dalam upaya menyikapi pengaruh zaman yang semakin menjadikan manusia budak dari materi. Jika hal ini dibiarkan maka akan terjadi dissending generation, dimana generasi penerus bangsa tidak akan mampu menjadi tulang punggung bangsa dan hilang (Sukadi, 2011).
Lalu di zaman sekarang akan dengan mudah kita saksikan beberapa pemuda yang merasa keren, hebat dan lebih percaya diri dengan perangkat canggih di tangan kiri dan kanannya. Berlenggak-lenggok mendengar alunan musik dari headset yang menempel ditelinga, khusuk dan penuh konsentrasi memandangi layar smartphone seolah-olah ada hal yang selalu penting untuk dibaca. Ada pula yang betah nongkrong seharian di pinggir-pinggir jalan, di pasar-pasar, di pusat-pusat permainan dan di tempat-tempat hiburan lainnya tanpa ada aktifitas produktif sama sekali. Lebih parah lagi golongan pemuda yang lain, mereka ini terlibat dalam aksi kenakalan remaja, tawuran, mabuk-mabukan bahkan menjadi pelaku dalam kasus-kasus berat dan kriminal.
Akumulasi dari hal ini menyebabkan mereka lalai terhadap kualitas dirinya, tak hafal teks Pancasila, bahkan tak hafal hari kemerdekaan negaranya sendiri. Dari sisi agama mereka juga sangat lemah. Baca Al Qurán terbata-bata, bahkan untuk sekedar membaca surah Al Fatihah pun tak hafal, naudzubillah.
Terhadap orang tua, banyak pemuda kita yang kurang menjaga sikap dan sopan santun. Tutur katanya kasar dan terkadang menyinggung hati orang tua. Mereka yang berpendidikan tinggi kemudian menganggap dirinya lebih pintar dari orang tuanya sendiri, lalu meremehkan, hingga menolak nasehat dari orang tua.

Jika sudah begini, tentu pemuda bukan lagi menjadi bagian solusi yang diharapkan dalam menyongsong masa depan, justru akan menjadi permasalahan serius di masa yang akan datang.

Jumat, 28 Oktober 2016

REFLEKSI HARI SUMPAH PEMUDA

Sumber Foto : Google, 2016
Membicarakan tentang pemuda, kita sering dicekoki dengan beragam kalimat hiperbolis seperti "pemuda adalah harapan bangsa, pemuda penerus perjuangan, pelopor pembangunan, agen perubahan" dan sederet kalimat penuh harapan lainnya. Hal ini diperkuat pula dengan pernyataan tokoh-tokoh hebat sebut saja Ir. Sukarno misalnya. Tokoh yang dikenal sebagai bapak proklamator Indonesia ini pernah mengungkapkan kalimat yang sangat fenomenal tentang hebatnya pemuda yakni dengan mengatakan “Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia”.
Kemudian jika kita melihat sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa, bahwa memang pelopor pergerakan kemerdekaan Indonesia didominasi oleh kalangan pemuda. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa pemuda memang memiliki potensi dan kemampuan yang bisa diandalkan untuk menjadi pemikul amanah keberlanjutan perjuangan bangsa di masa yang akan datang. Keteladanan dan sikap kepeloporan yang dicontohkan oleh para pemuda terdahulu, kiranya penting menjadi rujukan dan pelajaran bersama. Bagaimana kaum muda meletakkan kepentingan bangsa dan Negara di atas kepentingan dirinya sendiri. Menomorduakan kenyamanan pribadinya, menghabiskan waktu, tenaga dan pikiran, bahkan rela keluar masuk penjara. Nilai-nilai dan semangat kepeloporan seperti inilah yang diharapkan mampu diadopsi oleh pemuda masa kini, kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sesuai panggung, status, peran dan fungsi masing-masing.
Pemuda tak boleh mengurung diri di penjara zaman, move on menjadi istilah yang niscaya segera dilakukan. Kita pun tak boleh hanya menjadikan gemilangnya prestasi pemuda terdahulu sebagai romantisme sejarah yang selalu “hanya dibangga-banggakan”, sementara kita tidak mampu meneladani sikap dan keberanian mereka.
Namun tentu seiring zaman, kita dihadapkan pada realitas kehidupan yang semakin dinamis dan kompleks. Tantangan dan perjuangan pemuda masa kini telah berubah dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, pemuda yang diidentikkan sebagai agen perubahan juga dituntut mampu merespon dinamika di sekitarnya dengan cepat dan tanggap. Sehingga mengharuskan mereka untuk bersikap aktif, dinamis, menjemput bola, dan berani turun ke gelanggang. Bukan sekedar menjadi penonton, pendengar dan golongan yang pasif.
Pemuda masa kini tak lagi berhadapan dengan agresi militer, penjajahan terhadap rakyat dan berbagai penderitaan seperti di zaman pra dan awal kemerdekaan Indonesia. Arah dan gerak juang pemuda masa kini terletak pada kepeloporan, memberikan teladan dan menjadi garda terdepan dalam aktifitas pembangunan di segala lini, serta menjadi pengawal yang objektif atas setiap pengambilan kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah.
Hal yang penting pula untuk diperhatikan, agar jangan sampai pemuda terjangkit oleh pola pikir pragmatis, egois, serta mementingkan kepentingan pribadi dan golongannya semata. Hingga bersikap timpang, dan hanya memihak pada kepentingan yang mendatangkan keuntungan bagi pihaknya saja. Sikap pragmatis dan egois seperti ini akan berimplikasi pada pemahaman yang bersifat transaksional. Pemahaman yang akan mengukur segala sesuatu berdasarkan materi. Jika pandangan semacam ini dibiarkan berkembang dan menghinggapi pemuda, maka akan susah kita dapati pemuda yang siap menjadi pengabdi, yang ingin berjuang bukan karena akan mendapatkan apa. Pemuda harus memiliki pandangan yang universal dan fokus pada keberpihakan terhadap kebenaran, meluruskan ketimpangan-ketimpangan yang ada, serta menjadi solusi bagi problematika yang dihadapi masyarakat di sekitarnya. Pemikiran-pemikiran seperti “asal saya senang, asal saya kenyang” tentu bukanlah pemikiran yang diharapkan dari pemuda.

Berkorelasi dengan tingginya ekspektasi yang diharapkan pada pemuda, melahirkan konsekuensi logis bahwa pemuda haruslah memiliki kemapuan dan kecakapan, memiliki kompetensi dan kapabilitas. Mengingat besarnya potensi pemuda ini, karenanya memfungsikan pemuda menjadi penting. Namun jiwa muda dan spontanitas saja tentu tidaklah cukup menjadi modal satu-satunya dalam pergulatan kehidupan di masyarakat dengan dinamika yang semakin komplek seperti sekarang ini. Oleh karena itu pemuda harus disiapkan dan mempersiapkan diri, dibekali dan membekali diri dengan ilmu, serta dibina baik intelektual dan spiritualnya, dimotivasi dan diberi ruang serta kepercayaan untuk mengambil peran dalam mengaktualisasikan potensinya.

Kamis, 11 Agustus 2016

Full Day School; Kebijakan Kontroversial Mendikbud Prof. Muhadjir Effendy

Ilustrasi Anak Sekolah; Foto (Sumber: BBC)
Dulu sewaktu masih SMP, kami sekolah dari jam 7 pagi hingga jam 1.30 siang. 
Entahlah, meski suasana di sekolah cukup nyaman dan menyenangkan, tapi berlama-lama hingga berjam2 di sekolah (meski tidak belajar), sangat tidak mengenakkan.
Saat itu mendengar bel pulang sekolah berbunyi menghadirkan rasa bahagia tiada tara, layaknya menyambut hari raya. Semuanya bergegas pulang dengan riang gembira.
Hari ini, kebijakan Full Day School direncanakan akan diterapkan utk siswa SD dan SMP.
Semoga semuanya dipertimbangkan dengan matang. Sosialisasi yg intens kepada semua pihak yg berkepentingan.
‌Kalau ternyata nanti gurunya saja bosan lama2 di sekolah, bagaimana dgn siswanya...
#‪#‎Belum‬ pada konklusi Tolak Full Day School

Senin, 01 Agustus 2016

Ekpsektasi Masyarakat Terhadap Pemuda

Membicarakan tentang pemuda, kita sering dicekoki dengan beragam kalimat hiperbolis seperti "pemuda adalah harapan bangsa, pemuda penerus perjuangan, pelopor pembangunan, agen perubahan" dan sederet kalimat penuh harapan lainnya. Hal ini diperkuat pula dengan pernyataan tokoh-tokoh hebat sebut saja Ir. Sukarno misalnya. Tokoh yang dikenal sebagai bapak proklamator Indonesia ini pernah mengungkapkan kalimat yang sangat fenomenal tentang hebatnya pemuda yakni dengan mengatakan “Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia”.
Kemudian jika kita melihat sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa, bahwa memang pelopor pergerakan kemerdekaan Indonesia didominasi oleh kalangan pemuda. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa pemuda memang memiliki potensi dan kemampuan yang bisa diandalkan untuk menjadi pemikul amanah keberlanjutan perjuangan bangsa di masa yang akan datang. Keteladanan dan sikap kepeloporan yang dicontohkan oleh para pemuda terdahulu, kiranya penting menjadi rujukan dan pelajaran bersama. Bagaimana kaum muda meletakkan kepentingan bangsa dan Negara di atas kepentingan dirinya sendiri. Menomorduakan kenyamanan pribadinya, menghabiskan waktu, tenaga dan pikiran, bahkan rela keluar masuk penjara. Nilai-nilai dan semangat kepeloporan seperti inilah yang diharapkan mampu diadopsi oleh pemuda masa kini, kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sesuai panggung, status, peran dan fungsi masing-masing.
Pemuda tak boleh mengurung diri di penjara zaman, move on menjadi istilah yang niscaya segera dilakukan. Kita pun tak boleh hanya menjadikan gemilangnya prestasi pemuda terdahulu sebagai romantisme sejarah yang selalu “hanya dibangga-banggakan”, sementara kita tidak mampu meneladani sikap dan keberanian mereka.

Minggu, 10 Juli 2016

Kebesaran Allah SWT

Allah SWT yang maha luas kekuasaanNya. Meliputi seluruh alam, langit, bumi dan seluruh jagad raya.
Ilmu Allah SWT adalah ilmu yang paling sempurna. Sedangkan ilmu manusia hanyalah ibarat sisa air diujung jari yg dicelupkan ke dalam lautan, sementara ilmu Allah SWT ibarat seluruh air di lautan.

Senin, 18 April 2016

"Kewajiban Sebagai Keniscayaan untuk Mendapatkan Hak ; Sebuah Autokritik"

Berbicara mengenai hak dan kewajiban, kebanyakan kita punya kecendrungan yang sama. Yakni cenderung menuntut hak, tapi suka lalai pada kewajiban. Parahnya hal ini berlaku hampir pada semua askep kehidupan. Dalam dunia kerja misalnya, ada sebagian (banyak) yang suka menuntut kenaikan gaji, pemenuhan fasilitas, kejelasan status, dan lain sebagainya. Tapi dalam melaksanakan pekerjaannya mereka bekerja uring-uringan, menunda pekerjaan, datang terlambat, pulang lebih cepat dari seharusnya, bahkan ada yang bekerja dengan cara yang tidak jujur. Lain lagi di dunia pendidikan. Banyak dari siswa dan mahasiswa menginginkan nilai bagus, lulus ujian, dan cepat wisuda. Namun di sisi lain mereka malas belajar, tak mau baca buku, enggan mengerjakan tugas, malas bertanya pada guru/dosen, bahkan malas datang ke sekolah/kampus. Tak terkecuali dalam kehidupan beragama. Kita berharap mendapat ampunan, berharap mendapat kasih sayang Tuhan, dan berharap masuk surga. Sementara dalam keseharian kita malas beribadah, enggan bersedekah, tak mau bersilaturrahmi, dan berat melaksanakan perintah Tuhan. Padahal, sama-sama kita maklum. Bahwa aturan mainnya dari dulu hingga sekarang yakni, PENUHI KEWAJIBAN, MAKA HAK AKAN DIDAPAT. Jangan dibalik logikanya. Bukankah orang-orang bijak sering mengatakan, bahwa dalam hidup ini semuanya perlu proses, dan melaksanakan kewajiban hakikatnya adalah sebuah proses untuk mendapatkan hak.

"Kewajiban Sebagai Keniscayaan untuk Mendapatkan Hak ; Sebuah Autokritik"

Berbicara mengenai hak dan kewajiban, kebanyakan kita punya kecendrungan yang sama. Yakni cenderung menuntut hak, tapi suka lalai pada kewajiban. Parahnya hal ini berlaku hampir pada semua askep kehidupan. Dalam dunia kerja misalnya, ada sebagian (banyak) yang suka menuntut kenaikan gaji, pemenuhan fasilitas, kejelasan status, dan lain sebagainya. Tapi dalam melaksanakan pekerjaannya mereka bekerja uring-uringan, menunda pekerjaan, datang terlambat, pulang lebih cepat dari seharusnya, bahkan ada yang bekerja dengan cara yang tidak jujur. Lain lagi di dunia pendidikan. Banyak dari siswa dan mahasiswa menginginkan nilai bagus, lulus ujian, dan cepat wisuda. Namun di sisi lain mereka malas belajar, tak mau baca buku, enggan mengerjakan tugas, malas bertanya pada guru/dosen, bahkan malas datang ke sekolah/kampus. Tak terkecuali dalam kehidupan beragama. Kita berharap mendapat ampunan, berharap mendapat kasih sayang Tuhan, dan berharap masuk surga. Sementara dalam keseharian kita malas beribadah, enggan bersedekah, tak mau bersilaturrahmi, dan berat melaksanakan perintah Tuhan. Padahal, sama-sama kita maklum. Bahwa aturan mainnya dari dulu hingga sekarang yakni, PENUHI KEWAJIBAN, MAKA HAK AKAN DIDAPAT. Jangan dibalik logikanya. Bukankah orang-orang bijak sering mengatakan, bahwa dalam hidup ini semuanya perlu proses, dan melaksanakan kewajiban hakikatnya adalah sebuah proses untuk mendapatkan hak.

Kamis, 28 Januari 2016

Menjadi Laki-laki

Menjadi Laki-laki. Mau tak mau harus ikuti aturan mainnya. Terlepas dari perdebatan para pegiat gender tentang kesetaraan laki2 dan perempuan dalam berbagai bidang. Namun konstruksi sosial yang telah lama sama2 kita mahfum, mengkondisikan laki2 adalah pemimpin perempuan (dengan justifikasi firman Tuhan). Dalam konteks ini, laki2 dilabeli dengan sederet embel2 seperti gagah, berwibawa, karismatik, dll. Pada saat yg sama, para perempuan pun mengamini, bahwa "katanya" mereka merasa tenang dan damai, merasa terlindungi, bahkan ada yg merasa mendapat kekuatan lebih bila berada di dekat laki2, dan banyak lagi. Maka jika "kebetulan" engkau dilahirkan sebagai laki2. Meski mungkin, bentuk fisikmu kebetulan tak gagah dan berotot. Engkau dgn serta merta memikul tanggung jawab untuk menjadi gagah, berwibawa, karismatik, mengayomi, melindungi, dan bertanggung jawab.

Menjadi Laki-laki

Menjadi Laki-laki. Mau tak mau harus ikuti aturan mainnya. Terlepas dari perdebatan para pegiat gender tentang kesetaraan laki2 dan perempuan dalam berbagai bidang. Namun konstruksi sosial yang telah lama sama2 kita mahfum, mengkondisikan laki2 adalah pemimpin perempuan (dengan justifikasi firman Tuhan). Dalam konteks ini, laki2 dilabeli dengan sederet embel2 seperti gagah, berwibawa, karismatik, dll. Pada saat yg sama, para perempuan pun mengamini, bahwa "katanya" mereka merasa tenang dan damai, merasa terlindungi, bahkan ada yg merasa mendapat kekuatan lebih bila berada di dekat laki2, dan banyak lagi. Maka jika "kebetulan" engkau dilahirkan sebagai laki2. Meski mungkin, bentuk fisikmu kebetulan tak gagah dan berotot. Engkau dgn serta merta memikul tanggung jawab untuk menjadi gagah, berwibawa, karismatik, mengayomi, melindungi, dan bertanggung jawab.

Senin, 07 Mei 2012

INSPIRASI DARI SEORANG DOSEN

"DUNIA MAHASISWA ADALAH DUNIA MENGAPA". Demikian dikatakan oleh seorang dosen pada kuliah ku di suatu siang. Apa makna dibalik kalimat ini. Bahwa mahasiswa adalah kalangan elit di masyarakat, yang memiliki fungsi "agen of change and agen of social control", maka mereka harus bisa mengungkap fakta dari apa yang dipelajari dan menguak makna dari apa yang mereka lihat, dengar, dan rasa.

Sabtu, 14 April 2012

Software Belajar Ilmu Tajwid

Saya ingin share sebuah software belajar ilmu tajwid lengkap. Software ini dilengkapi dengan petunjuk berupa audio dan visual, serta tanda-tanda baca yang sangat jelas sehingga memudahkan kita dalam memahami dan mempelajari ilmu tajwid. Hanya dengan satu kali klik, alat ini akan mengeluarkan suara sesuai dengan bacaan yang diklik serta menerangkan makna dan cara melafalkan bacaan tersebut.
Mulai dari bentuk, makhraj dan sifat huruf hijaiyah, hingga pengenalan ilmu tajwid, huruf qalqalah dan waqaf. Mudah-mudahan ini bisa membantu dan memperlancar kita dalam membaca dan memahami Al Quran. Bagi yang mau memiliki software ini silakan download di sini...
Semoga bermanfaat.
Billahitaufik walhidayah.
Referensi: www.macromedia.com

Selasa, 10 April 2012

Konsepsi Ketuhanan dan Kaitannya dengan Perikemanusiaan


Manusia dalam menjalin relasi dan berinteraksi dengan sekelilingnya dan lingkungannya, memiliki sebuah kemerdekaan untuk bertindak dan bersikap (meniadakan perbudakan, penjajahan, marginalisasi, dan tindakan tidak berperikemanusiaan lainnya). Kebebasan dan kemerdekaan ini pada hakikatnya memiliki batasan yang disebut dengan kebenaran. Maka manusia, walaupun tidak tunduk pada sesuatu apapun dari dunia di sekelilingnya, ia tetap harus tunduk pada kebenaran (pengabdian dan penyembahan).
Jadi kebenaran “ridho-Nya” merupakan tujuan hidup yang sebenarnya. Konsekuensi logis yang akan muncul adalah adanya tuntutan untuk melakukan pengabdian pada sang pemilik kebenaran mutlak dengan ikhlas agar mencapai kebenaran itu sendiri, dan keikhlasan akan mustahil adanya tanpa sebuah kemerdekaan.
“padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.” (QS. Al Lail; 19-21).
Semangat tauhid (pengabdian hanya kepada Tuhan YME) menimbulkan kesatuan tujuan hidup, kesatuan kepribadian dan kemasyarakatan. Kehidupan bertauhid tidak lagi berat sebelah, parsial dan terbatas. Manusia bertauhid adalah manusia yang sejati dan sempurna yang kesadaran akan dirinya tidak mengenal batas. Maka sirnalah batasan-batasan, sakralisasi-sakralisasi, dan fanatisme buta, terhadap materi, benda, suku, bangsa, organisasi, partai dan sebagainya.
Manusia yang bertauhid adalah manusia yang berperikemanusiaan, maka sebagai perwujudannya manusia yang bertauhid ini akan melaksanakan kerja-kerja kemanusian yang berupa amal shaleh, bentuknya bisa berupa usaha untuk menciptakan kebaikan, keindahan dan kenyamanan bagi sesama manusia (universal brotherhood).
Manusia yang bertauhid (berketuhanan YME) adalah manusia merdeka, ia tidak berbuat syirik, iapun bukan seorang musyrik. Ia tidak menggantungkan dirinya pada selain pemilik kebenaran mutlak “Tuhan”. Ia adalah manusia yang adil dan proporsional sehingga ia memandang sesuatu diluar dirinya selain Tuhan dengan pandangan yang wajar dan tidak berlebihan sehingga menghambakan diri lalu meniadakan kemerdekaannya sendiri. Oleh karenan itu dapat dipahami bahwa ketuhanan menimbulkan sikap adil kepada sesama manusia.
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An Nahl; 90).


Billahitaufik wal hidayah....