Rabu, 31 Maret 2010

puisi ku

Sungguh kau tlah menginfeksiku dengan virus cinta mahaganas,,,,

kini kau mulai merasuki fikiran dan sistem sarafku,,,,,,

hingga tanpa ampun,,,,

aku takluk kepadamu,,,,,,,,,,,,

Rabu, 17 Maret 2010

kacau.........

Kawan tahukah kalian arti keindahan sesungguhnya? Apakah keindahan itu, sesuatu yang sedap dipandang mata, atau asyik buat didengar telinga. Ataukah keindahan itu sesuatu yang karena esensiny bisa menggetarkan jiwa. . . .


mengingat bayangmu yang jauh pada waktu yang kian sempit, dadaku nyaris terbelah perih melolong sengit, rinduku membuncah merobek langit. kutitip puisi rindu pada nyanyi angin sendu agar hati tak kian pilu berharap kaupun rindu..............

Allahumma shalli ala Muhammad. . . Ya Rasul. . . Sungguh mulia dan luhur budiMu, sungguh agung dan santun sifatMu. Sungguh sopan dan terpuji tutur kataMu. Sungguh Engkau adaLah guru maha besar umat manusia, meskipun tidak bergeLar DOKTOR. . ! Ya Allah, , , tumbuhkn kcintaan maha besar dalam hatiku, pada RasuLMu yg agun...

Akhirnya aq MengaLamiNya juga kawan, , ,tapi terNyata sakitNya gx kayak yg di Lagu Band-Band sekarang, sepertinya yg begitu mah, udah terkena penyakit OBSESIF KOMPULSIF. . . .

Dirimu bagai crayon dan canvas dalam hidupQ...yang bisa mewarnai hari dan melukis indah stiap waktu yang kulalui..... tapi akankah????.............

Dan. . . . Aku di sini, menjadi bagian dari popuLasi mahasiswa pendatang, ,dengan satu tekad dan niat menimba iLmu, untuk diisikan ke wadah yang tak pernah penuh-otak-.

Sabtu, 27 Februari 2010

BELAJAR DARI SEMUT


Kawan pernahkan kau perhatikan semut yang merayap di dinding, lantai, atau tanah. Aku pernah, suatu ketika, ketika ingin solat Jum'at. Di dinding masjid banyak sekali semut merayap. Mereka berjalan berlawanan arah. Dan tahukah kalian apa yang ku saksikan. Mereka setiap kali berpapasan pasti saling beradu kepala. Yang ini ku maknai dengan salam atau bertegur sapa. Nah dari sini aku mendapat pelajaran bahwa semut ternyata sangat menjaga integritas dan persaudaraan dengan keramahan mereka.

Di lain kesempatan dekat rumahku, dulu aku pernah melihat semut bersama-sama menggotong potongan roti, mereka kompak sekali, ada yang mendorong dengan berjalan maju, dan ada yang menarik mundur. Dari sini pula aku mengambil pelajaran bahwa ternyata semut itu sangat menjunjung tinggi semangat kebersamaan, kerjasama dan saling membantu.

Ketila semut-semut itu telah berlalu, tahukah kau kawan, apa yang kemudian melintas dalam benakku.
"Jika semut-semut itu dapat hidup dengan menjaga silaturahmi dan persaudaraan, serta bisa hidup rukun dengan saling membantu dan bekerja sama, bagaimana dengan kita manusia" Demikian tanyaku dalam hati.

Semoga bisa jadi renungan...................

Jumat, 18 Desember 2009

MARAKNYA TINDAK KEKERASAN TERHADAP TKI


Bukan merupakan rahasia umum lagi, bahwa Indonesia merupakan Negara yang banyak mengirim tenaga kerjanya keluar negeri. Hampir dari setiap daerah di Indonesia turut ambil bagian sebagai pengirim TKI ke luar negeri. Negara yang menjadi tujuan TKI pun beragam, mulai dari negara-negara dikawasan Asia Tenggara, Asia, bahkan Eropa. Untuk negara-negara di kawasan Asia Tenggara seperti Malaysia, Brunei Darussalam dan Singapura merupakan tujuan favorit para TKI.
Besarnya jumlah TKI yang berangkat keluar negeri dimotivasi oleh berbagai iming-iming, salah-satunya adalah gaji yang tinggi. Namun tak jarang para TKI harus menanggung kekecewaan, karena mereka tidak mendapatkan apa yang dijanjikan. Justru tak jarang mereka ditelantarkan bahkan diperlakukan tidak wajar.
Akhir-akhir ini, kita sering mendengar banyak kasus perlakuan tak wajar yang dilakukan majikan kepada para TKI yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Bentuk perlakuan tak wajar ini modusnya beragam, mulai dari gaji yang tidak dibayar sampai perlakuan kasar dalam bentuk penyiksaan. Fenomena seperti ini sering kita saksikan di media baik cetak maupun elektronik yang meliput kejadian ini. Sasaran empuk tindak kekerasan ini khusunya TKI perempuan.
Contoh kasus, baru-baru ini seperti diberitakan salah satu stasiun televisi swasta, Bagaimana seorang ibu yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jeddah Arab Saudi. Ia dianiaya oleh majikannya hanya karena tidak mendengar waktu si majikan memanggilnya. Lalu sang majikan pun dengan kasar menarik baju si ibu, hingga kakinya tertgantung, setelah itu ibu itu didorong hingga membentur benda keras, yang menyebabkan sekujur tubuh ibu ini luka-luka dan harus dibawa ke rumah sakit di Jeddah. Ada juga sebagian TKI yang sudah bertahun-tahun bekerja, namun gajinya tidak dibayar. Bahkan ada TKI yang meninggal dunia, sementara permasalahannya tidak jelas. Bisa dibayangkan betapa ini merupakan suatu bentuk kezoliman yang nyata.
Bentuk tindak kekerasan yang terjadi pada para TKI yang dilakukan majikannya tak jarang hanya karena persoalan sepele. Seperti contoh kasus tadi, hanya karena sang pembantu tidak mendengar panggilan lalu disiksa. Terlepas dari apakah memang hal-hal yang memang merupakan kesalahan pekerja, tindakan kekerasan tetap tidak dibenarkan.
Pemerintah selaku pengayom warga negaranya hendaknya memberikan perhatian khusus terhadap masalah ini. Kemana lagi mereka bisa mengadu kalau bukan kepada pemimpin mereka. Cukup sudah TKI kita dianiaya, cukup sudah TKI kita disiksa.
Para majikan harusnya juga memperhatikan hak-hak pekerja, jangan berbuat seenaknya. Bukankah mereka juga memiliki hak yang sama. Ketika mereka melaksanan kewajibannya yakni bekerja, maka adalah suatu kewajaran bagi mereka untuk mendapatkan haknya (gaji). Sebagai majikan hendaknya juga bisa mengerti bahwa yang mereka pekerjakan bukanlah robot yang selalu siap 24 jam sehari. Mereka adalah manusia yang perlu istirahat dari lelah dan juga perlu menenangkan diri dari stres. Jika sikap saling pengertian ini bisa terwujud, maka kemungkinan terjadinya tindak kekerasan bisa ditekan jumlahnya.

Minggu, 08 November 2009

KOBMASI 2009

KOBMASI kembali mengadakan kegiatan, tepatnya pada tanggal 02 November kemarin. Kobmasi yang pas berulang tahun tgl 1 November itu merayakan ULTAHnya yang pertama. Kemudian pada tanggal 06 November 2009, menggelar acara temu akrab bersama Mahasiswa Baru.....Buat teman-teman kami mengajak GABUNG YUUUK...Saatnya kita menjadi mahasiwa yang berintelektual..............

Jumat, 03 Juli 2009

Ayah ku Rusli Latif


Ayahku tercintaaaaaaaaaaaaaa
.............Bapakku yang berkarakter tegas, namun arif ini selalu menasehatiku, aku masih ingat kata-katanya, “Ngah kau belajar ye batol-batol, itok kau dah kalas tige yang nantukan keberhasilan mu selama tige taun,” ujarnya. Dan ketika aku malas untuk berangkat ke sekolah karena hari hujan, ia akan menegurku dengan tegas, “Yoh nak jadi ape kau ratinye? Tang lalu malas sekolah,” tegurnya.
Bapakku adalah sosok yang sangat aku kagumi, dia seorang penganut agama yang taat, tegas, disiplin, dan berwibawa. Meskipun tidak memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi tapi wawasannya sangat luas, baik ketika bicara politik, apalagi masalah agama. Ia selalu di jadikan tempat bertanya oleh orang-orang yang sedang menghadapi masalah. Beliau seakan tak pernah kehabisan kata-kata ampuh untuk memberikan solusi terbaik terhadap permasalahan orang yang bertanya padanya. Tatapan matanya yang tajam dan di situlah letak kharismanya.

Sabtu, 13 Juni 2009

KISAH SEDIH

Hari itu aku dibangunkan lebih awal dari biasanya, ketika mataku ku buka, aku melihat sebuah tas besar penuh muatan tersandar di dinding. Aku masih merekam momen itu, hari itu hari rabu. Ketika matahari belum muncul, tapi cahaya samarnya sudah menerangi. Kulihat bapakku sudah berkemas dengan rapi. Ia mengenakan jacket merah, celana hitam lengkap dengan sepatu yang selalu disemprotnya dengan cat pylox agar berwarna hitam, karena sepatunya berwarna merah. Ibu dan kakakku duduk di ruang tengah,. Ya, hari itu aku harus berangkat kuliah juah nun di seberang sana, ke suatu tempat yang biasanya hanya ku lihat di tv, tapi kini aku akan menapakinya.

Lampu hijau pun telah menyala, menandakan aku harus segera berangkat meninggalkan....meninggalkan keluargaku, temanku, dan kampungku. Pagi itu merupakan pagi terakhir aku mendengar cicit burung yang mengisap sari bunga kelapa di-samping rumahku, dua batang pohon akasia rindang yang meneduhi halaman depan rumah tak akan kulihat lagi, aku tak bisa lagi mendengar kokok ayam jantan Cik Ilam yang biasa membangunkanku di pagi hari.

Aku menyalami dan mencium tangan ibuku, lalu kakakku. Aku tak menatap wajah mereka karena aku takut akan menangis sedih karena meninggalkan mereka. Aku sempat mau pamit dengan nenekku, tapi karena waktu itu masih sangat pagi mungkin ia masih tidur, sehingga aku tidak bertemu. Aku ingat seorang tetanggaku yang menghapiriku, ya aku ingat wajahnya, yang pada waktu itu tidak terlalu ku gubris karena hatiku yang galau. Dialah bang Rasyid penduduk desaku yang berasal dari Jawa.

Ketika hatiku sedang berkecamuk, sedih bercampur menjadi satu. Aku menundukan kepalaku yang ditutupi helm berwarna biru, helm favoritku. Suara bapakku menyadarkanku kalau harus segera berangkat. “ Selamat tinggal ,” batinku dalam hati, tanpa aku sadari butir-butir bening keluar dari mataku. Aku begitu sulit meninggalkan mereka semua, padahal aku hanya pergi satu tahun.