Minggu, 08 November 2009
KOBMASI 2009
KOBMASI kembali mengadakan kegiatan, tepatnya pada tanggal 02 November kemarin. Kobmasi yang pas berulang tahun tgl 1 November itu merayakan ULTAHnya yang pertama. Kemudian pada tanggal 06 November 2009, menggelar acara temu akrab bersama Mahasiswa Baru.....Buat teman-teman kami mengajak GABUNG YUUUK...Saatnya kita menjadi mahasiwa yang berintelektual..............
Jumat, 03 Juli 2009
Ayah ku Rusli Latif
Ayahku tercintaaaaaaaaaaaaaa
.............Bapakku yang berkarakter tegas, namun arif ini selalu menasehatiku, aku masih ingat kata-katanya, “Ngah kau belajar ye batol-batol, itok kau dah kalas tige yang nantukan keberhasilan mu selama tige taun,” ujarnya. Dan ketika aku malas untuk berangkat ke sekolah karena hari hujan, ia akan menegurku dengan tegas, “Yoh nak jadi ape kau ratinye? Tang lalu malas sekolah,” tegurnya.
Bapakku adalah sosok yang sangat aku kagumi, dia seorang penganut agama yang taat, tegas, disiplin, dan berwibawa. Meskipun tidak memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi tapi wawasannya sangat luas, baik ketika bicara politik, apalagi masalah agama. Ia selalu di jadikan tempat bertanya oleh orang-orang yang sedang menghadapi masalah. Beliau seakan tak pernah kehabisan kata-kata ampuh untuk memberikan solusi terbaik terhadap permasalahan orang yang bertanya padanya. Tatapan matanya yang tajam dan di situlah letak kharismanya.
Sabtu, 13 Juni 2009
KISAH SEDIH
Hari itu aku dibangunkan lebih awal dari biasanya, ketika mataku ku buka, aku melihat sebuah tas besar penuh muatan tersandar di dinding. Aku masih merekam momen itu, hari itu hari rabu. Ketika matahari belum muncul, tapi cahaya samarnya sudah menerangi. Kulihat bapakku sudah berkemas dengan rapi. Ia mengenakan jacket merah, celana hitam lengkap dengan sepatu yang selalu disemprotnya dengan cat pylox agar berwarna hitam, karena sepatunya berwarna merah. Ibu dan kakakku duduk di ruang tengah,. Ya, hari itu aku harus berangkat kuliah juah nun di seberang sana, ke suatu tempat yang biasanya hanya ku lihat di tv, tapi kini aku akan menapakinya.
Lampu hijau pun telah menyala, menandakan aku harus segera berangkat meninggalkan....meninggalkan keluargaku, temanku, dan kampungku. Pagi itu merupakan pagi terakhir aku mendengar cicit burung yang mengisap sari bunga kelapa di-samping rumahku, dua batang pohon akasia rindang yang meneduhi halaman depan rumah tak akan kulihat lagi, aku tak bisa lagi mendengar kokok ayam jantan Cik Ilam yang biasa membangunkanku di pagi hari.
Aku menyalami dan mencium tangan ibuku, lalu kakakku. Aku tak menatap wajah mereka karena aku takut akan menangis sedih karena meninggalkan mereka. Aku sempat mau pamit dengan nenekku, tapi karena waktu itu masih sangat pagi mungkin ia masih tidur, sehingga aku tidak bertemu. Aku ingat seorang tetanggaku yang menghapiriku, ya aku ingat wajahnya, yang pada waktu itu tidak terlalu ku gubris karena hatiku yang galau. Dialah bang Rasyid penduduk desaku yang berasal dari Jawa.
Ketika hatiku sedang berkecamuk, sedih bercampur menjadi satu. Aku menundukan kepalaku yang ditutupi helm berwarna biru, helm favoritku. Suara bapakku menyadarkanku kalau harus segera berangkat. “ Selamat tinggal ,” batinku dalam hati, tanpa aku sadari butir-butir bening keluar dari mataku. Aku begitu sulit meninggalkan mereka semua, padahal aku hanya pergi satu tahun.
Lampu hijau pun telah menyala, menandakan aku harus segera berangkat meninggalkan....meninggalkan keluargaku, temanku, dan kampungku. Pagi itu merupakan pagi terakhir aku mendengar cicit burung yang mengisap sari bunga kelapa di-samping rumahku, dua batang pohon akasia rindang yang meneduhi halaman depan rumah tak akan kulihat lagi, aku tak bisa lagi mendengar kokok ayam jantan Cik Ilam yang biasa membangunkanku di pagi hari.
Aku menyalami dan mencium tangan ibuku, lalu kakakku. Aku tak menatap wajah mereka karena aku takut akan menangis sedih karena meninggalkan mereka. Aku sempat mau pamit dengan nenekku, tapi karena waktu itu masih sangat pagi mungkin ia masih tidur, sehingga aku tidak bertemu. Aku ingat seorang tetanggaku yang menghapiriku, ya aku ingat wajahnya, yang pada waktu itu tidak terlalu ku gubris karena hatiku yang galau. Dialah bang Rasyid penduduk desaku yang berasal dari Jawa.
Ketika hatiku sedang berkecamuk, sedih bercampur menjadi satu. Aku menundukan kepalaku yang ditutupi helm berwarna biru, helm favoritku. Suara bapakku menyadarkanku kalau harus segera berangkat. “ Selamat tinggal ,” batinku dalam hati, tanpa aku sadari butir-butir bening keluar dari mataku. Aku begitu sulit meninggalkan mereka semua, padahal aku hanya pergi satu tahun.
Selasa, 14 April 2009
SAHABAT
Manusia selama hidupnya tak bisa hidup sendiri-sendiri mereka membutuhkan teman untuk berbagi dan saling melengkapi. Seorang sahabat sejati kadang tak ragu mengorbankan kepentingannya demi sahabatnya. Kita telah banyak mendengar kata-kata puitis yang membicarakan indahnya persahabatan. Salah satu contohnya penulis meminjam istilah Sidentosca yang mengatakan persahabatan bagai kepompong. Dan masih banyak lagi kata yang menceritakan tentang persahabatan ini. Namun bila kita melihat kondisi real dalam kehidupan sehari-hari, masih banyak orang khususnya anak muda yang belum menyadari arti pentingnya persahabatan.
Jumat, 10 April 2009
AKU TAU. . . !!!
Aku tau....... Aku tau bahwa aku manusia. Aku tau bahwa aku mahluk. Aku tau pasti ada khalik.
Aku tau kalau malam itu gelap. Aku tau api itu panas. Aku tau siang itu terang. Aku tau air itu dingin. Aku tau alunan lagu itu merdu. Aku tau ayam itu berkokok. Aku tau kuda itu meringkik. Aku tau itu suara mobil. Aku tau itu suara orang menggoreng. Aku tau halilintar pertanda hujan. Aku tau ombak di laut. Aku tau pasir di pantai. Aku pun tau batu di gunung. Aku tau bunga itu harum. Aku tau kentut itu bau. Aku tau merah itu merah. Aku juga tau ada yang berwarna kuning. Rumput di taman ku hijau. Aku tau warna langit biru. Ku juga tau kaca itu bening. Hai... Aku juga tau gula rasanya manis. Cuka itu asam. Yang asin adalah garam. Aku tau kursi ini empuk. Aku tau lantai rumahku halus. Aku tau kerikil itu terjal. Aku tau itu semua. Aku tau itu semua. Aku tau itu semua. Aku tau karena diajarkan. Ku tak pernah tau tanpa belajar. Kata guru ku,ilmu ini tentang panca indera. Belakangan aku juga tau, yang hidup akan mati. Sebagaimana yang terbit pasti tenggelam... Aku juga tau ada kehidupan sesudah mati, yang setiap orang dimintai pertanggungjawaban. Aku juga tau ada yang namanya dosa dan ada pahala. Maka kemudian aku beramal dengan ilmu yang kumiliki. Agar hidup setelah mati nanti aku tidak merugi.......!!!
S E K I A N
Aku tau kalau malam itu gelap. Aku tau api itu panas. Aku tau siang itu terang. Aku tau air itu dingin. Aku tau alunan lagu itu merdu. Aku tau ayam itu berkokok. Aku tau kuda itu meringkik. Aku tau itu suara mobil. Aku tau itu suara orang menggoreng. Aku tau halilintar pertanda hujan. Aku tau ombak di laut. Aku tau pasir di pantai. Aku pun tau batu di gunung. Aku tau bunga itu harum. Aku tau kentut itu bau. Aku tau merah itu merah. Aku juga tau ada yang berwarna kuning. Rumput di taman ku hijau. Aku tau warna langit biru. Ku juga tau kaca itu bening. Hai... Aku juga tau gula rasanya manis. Cuka itu asam. Yang asin adalah garam. Aku tau kursi ini empuk. Aku tau lantai rumahku halus. Aku tau kerikil itu terjal. Aku tau itu semua. Aku tau itu semua. Aku tau itu semua. Aku tau karena diajarkan. Ku tak pernah tau tanpa belajar. Kata guru ku,ilmu ini tentang panca indera. Belakangan aku juga tau, yang hidup akan mati. Sebagaimana yang terbit pasti tenggelam... Aku juga tau ada kehidupan sesudah mati, yang setiap orang dimintai pertanggungjawaban. Aku juga tau ada yang namanya dosa dan ada pahala. Maka kemudian aku beramal dengan ilmu yang kumiliki. Agar hidup setelah mati nanti aku tidak merugi.......!!!
S E K I A N
Rabu, 08 April 2009
cerita sedih
Sekapur sirih
Catatan ini berisi kenangan manis dan pahit selama aku sekolah, bukan merupakan suatu hal yang bersifat fiktif, tapi ini suatu realitas yang nyata.
Semoga tulisan ini bermanfaat, bagi para pembaca. Ku spesialkan tulisan ini untuk adikku Fadly yang sebentar lagi menempuh ujian. Di sini saudaramu hanya bisa berdo’a semoga kamu berhasil. Dan jangan berhenti berusaha.
Kepada kedua orang tuaku, catatan ini kudedikasikan. Tak mungkin bisa kubalas apa yang telah kalian berikan. Kalian adalah matahariku, sumber inspirasi yang selalu memberi tanpa pamrih. Akhirnya dari seorang anak yang bisanya hanya selalu meminta kepadamu kuucapkan terima kasih yang tak terhingga. Kaulah anugerah terbesar dalam hidupku.
Dan yang telah memberikan dukungan moril maupun materil. Kakakku yang berjiwa besar. Adikku Heri yang berfikiran dewasa dan selalu membantu orang tua, aku bangga padamu! Nekwanku yang penuh kasih, dan semua yang tak bisa kusebut satu per satu. Kuucapkan terima kasih padamu semua.
Malang, Maret 2009
Penulis,
Catatan ini berisi kenangan manis dan pahit selama aku sekolah, bukan merupakan suatu hal yang bersifat fiktif, tapi ini suatu realitas yang nyata.
Semoga tulisan ini bermanfaat, bagi para pembaca. Ku spesialkan tulisan ini untuk adikku Fadly yang sebentar lagi menempuh ujian. Di sini saudaramu hanya bisa berdo’a semoga kamu berhasil. Dan jangan berhenti berusaha.
Kepada kedua orang tuaku, catatan ini kudedikasikan. Tak mungkin bisa kubalas apa yang telah kalian berikan. Kalian adalah matahariku, sumber inspirasi yang selalu memberi tanpa pamrih. Akhirnya dari seorang anak yang bisanya hanya selalu meminta kepadamu kuucapkan terima kasih yang tak terhingga. Kaulah anugerah terbesar dalam hidupku.
Dan yang telah memberikan dukungan moril maupun materil. Kakakku yang berjiwa besar. Adikku Heri yang berfikiran dewasa dan selalu membantu orang tua, aku bangga padamu! Nekwanku yang penuh kasih, dan semua yang tak bisa kusebut satu per satu. Kuucapkan terima kasih padamu semua.
Malang, Maret 2009
Penulis,
Selasa, 31 Maret 2009
JERITAN HATI KU

Tertatih langkah memberati ingatanku ketika mengenangmu. Detik berlalu cepat tanpa pernah menoleh lagi.Sebuah harapan kuyakinkan ketika kau mengangguk pasti menatapku penuh makna... Segera kebimbangan itu pun sirna.Kini setelah lama berlalunya waktu, ia datang lagi menerpaku karena takut anggukanmu terhapus oleh jarak dan waktu. Berilah ia setitik penyejuk jiwa, dengan penuh cinta yakinkan ia...!!!!
Pagi kembali menyapa, menyambut pekatnya malam. Sinar keemasan itu pun luruh jua,membasuh sejuk beningnya embun, melukis wajah cantikmu di pucuk-pucuk rerumputan. Sejuta asa kembali singgah menggugah hasratku yang sesaat mati tersayatkepalsuan. Masuk membias raga memberati langkahku, tak sekalipun ku menyerah seperti kemarin, hari ini, esok ataupun lusa. Di mana nafas hidupku masih berhenbus, selama cwaktu masih berikanku kesempatan, selalu dan selalu ku akan terus menyayangimu. Meskipun ku telah tau kau tak lagi memiliki rasa yang sama denganku.......
Langganan:
Postingan (Atom)