Berbicara mengenai hak dan kewajiban, kebanyakan kita punya kecendrungan yang sama. Yakni cenderung menuntut hak, tapi suka lalai pada kewajiban. Parahnya hal ini berlaku hampir pada semua askep kehidupan.
Dalam dunia kerja misalnya, ada sebagian (banyak) yang suka menuntut kenaikan gaji, pemenuhan fasilitas, kejelasan status, dan lain sebagainya. Tapi dalam melaksanakan pekerjaannya mereka bekerja uring-uringan, menunda pekerjaan, datang terlambat, pulang lebih cepat dari seharusnya, bahkan ada yang bekerja dengan cara yang tidak jujur.
Lain lagi di dunia pendidikan. Banyak dari siswa dan mahasiswa menginginkan nilai bagus, lulus ujian, dan cepat wisuda. Namun di sisi lain mereka malas belajar, tak mau baca buku, enggan mengerjakan tugas, malas bertanya pada guru/dosen, bahkan malas datang ke sekolah/kampus.
Tak terkecuali dalam kehidupan beragama. Kita berharap mendapat ampunan, berharap mendapat kasih sayang Tuhan, dan berharap masuk surga. Sementara dalam keseharian kita malas beribadah, enggan bersedekah, tak mau bersilaturrahmi, dan berat melaksanakan perintah Tuhan.
Padahal, sama-sama kita maklum. Bahwa aturan mainnya dari dulu hingga sekarang yakni, PENUHI KEWAJIBAN, MAKA HAK AKAN DIDAPAT.
Jangan dibalik logikanya. Bukankah orang-orang bijak sering mengatakan, bahwa dalam hidup ini semuanya perlu proses, dan melaksanakan kewajiban hakikatnya adalah sebuah proses untuk mendapatkan hak.
Senin, 18 April 2016
"Kewajiban Sebagai Keniscayaan untuk Mendapatkan Hak ; Sebuah Autokritik"
Berbicara mengenai hak dan kewajiban, kebanyakan kita punya kecendrungan yang sama. Yakni cenderung menuntut hak, tapi suka lalai pada kewajiban. Parahnya hal ini berlaku hampir pada semua askep kehidupan.
Dalam dunia kerja misalnya, ada sebagian (banyak) yang suka menuntut kenaikan gaji, pemenuhan fasilitas, kejelasan status, dan lain sebagainya. Tapi dalam melaksanakan pekerjaannya mereka bekerja uring-uringan, menunda pekerjaan, datang terlambat, pulang lebih cepat dari seharusnya, bahkan ada yang bekerja dengan cara yang tidak jujur.
Lain lagi di dunia pendidikan. Banyak dari siswa dan mahasiswa menginginkan nilai bagus, lulus ujian, dan cepat wisuda. Namun di sisi lain mereka malas belajar, tak mau baca buku, enggan mengerjakan tugas, malas bertanya pada guru/dosen, bahkan malas datang ke sekolah/kampus.
Tak terkecuali dalam kehidupan beragama. Kita berharap mendapat ampunan, berharap mendapat kasih sayang Tuhan, dan berharap masuk surga. Sementara dalam keseharian kita malas beribadah, enggan bersedekah, tak mau bersilaturrahmi, dan berat melaksanakan perintah Tuhan.
Padahal, sama-sama kita maklum. Bahwa aturan mainnya dari dulu hingga sekarang yakni, PENUHI KEWAJIBAN, MAKA HAK AKAN DIDAPAT.
Jangan dibalik logikanya. Bukankah orang-orang bijak sering mengatakan, bahwa dalam hidup ini semuanya perlu proses, dan melaksanakan kewajiban hakikatnya adalah sebuah proses untuk mendapatkan hak.
Kamis, 28 Januari 2016
Menjadi Laki-laki
Menjadi Laki-laki.
Mau tak mau harus ikuti aturan mainnya. Terlepas dari perdebatan para pegiat gender tentang kesetaraan laki2 dan perempuan dalam berbagai bidang.
Namun konstruksi sosial yang telah lama sama2 kita mahfum, mengkondisikan laki2 adalah pemimpin perempuan (dengan justifikasi firman Tuhan).
Dalam konteks ini, laki2 dilabeli dengan sederet embel2 seperti gagah, berwibawa, karismatik, dll.
Pada saat yg sama, para perempuan pun mengamini, bahwa "katanya" mereka merasa tenang dan damai, merasa terlindungi, bahkan ada yg merasa mendapat kekuatan lebih bila berada di dekat laki2, dan banyak lagi.
Maka jika "kebetulan" engkau dilahirkan sebagai laki2. Meski mungkin, bentuk fisikmu kebetulan tak gagah dan berotot. Engkau dgn serta merta memikul tanggung jawab untuk menjadi gagah, berwibawa, karismatik, mengayomi, melindungi, dan bertanggung jawab.
Menjadi Laki-laki
Menjadi Laki-laki.
Mau tak mau harus ikuti aturan mainnya. Terlepas dari perdebatan para pegiat gender tentang kesetaraan laki2 dan perempuan dalam berbagai bidang.
Namun konstruksi sosial yang telah lama sama2 kita mahfum, mengkondisikan laki2 adalah pemimpin perempuan (dengan justifikasi firman Tuhan).
Dalam konteks ini, laki2 dilabeli dengan sederet embel2 seperti gagah, berwibawa, karismatik, dll.
Pada saat yg sama, para perempuan pun mengamini, bahwa "katanya" mereka merasa tenang dan damai, merasa terlindungi, bahkan ada yg merasa mendapat kekuatan lebih bila berada di dekat laki2, dan banyak lagi.
Maka jika "kebetulan" engkau dilahirkan sebagai laki2. Meski mungkin, bentuk fisikmu kebetulan tak gagah dan berotot. Engkau dgn serta merta memikul tanggung jawab untuk menjadi gagah, berwibawa, karismatik, mengayomi, melindungi, dan bertanggung jawab.
Senin, 07 Mei 2012
INSPIRASI DARI SEORANG DOSEN
"DUNIA MAHASISWA ADALAH DUNIA MENGAPA". Demikian dikatakan oleh seorang dosen pada kuliah ku di suatu siang. Apa makna dibalik kalimat ini. Bahwa mahasiswa adalah kalangan elit di masyarakat, yang memiliki fungsi "agen of change and agen of social control", maka mereka harus bisa mengungkap fakta dari apa yang dipelajari dan menguak makna dari apa yang mereka lihat, dengar, dan rasa.
Sabtu, 14 April 2012
Software Belajar Ilmu Tajwid
Saya ingin share sebuah software belajar ilmu tajwid lengkap. Software ini dilengkapi dengan petunjuk berupa audio dan visual, serta tanda-tanda baca yang sangat jelas sehingga memudahkan kita dalam memahami dan mempelajari ilmu tajwid. Hanya dengan satu kali klik, alat ini akan mengeluarkan suara sesuai dengan bacaan yang diklik serta menerangkan makna dan cara melafalkan bacaan tersebut.
Mulai dari bentuk, makhraj dan sifat huruf hijaiyah, hingga pengenalan ilmu tajwid, huruf qalqalah dan waqaf. Mudah-mudahan ini bisa membantu dan memperlancar kita dalam membaca dan memahami Al Quran. Bagi yang mau memiliki software ini silakan download di sini...
Semoga bermanfaat.
Billahitaufik walhidayah.
Referensi: www.macromedia.com
Mulai dari bentuk, makhraj dan sifat huruf hijaiyah, hingga pengenalan ilmu tajwid, huruf qalqalah dan waqaf. Mudah-mudahan ini bisa membantu dan memperlancar kita dalam membaca dan memahami Al Quran. Bagi yang mau memiliki software ini silakan download di sini...
Semoga bermanfaat.
Billahitaufik walhidayah.
Referensi: www.macromedia.com
Selasa, 10 April 2012
Konsepsi Ketuhanan dan Kaitannya dengan Perikemanusiaan
Manusia dalam menjalin relasi dan berinteraksi dengan sekelilingnya dan lingkungannya, memiliki sebuah kemerdekaan untuk bertindak dan bersikap (meniadakan perbudakan, penjajahan, marginalisasi, dan tindakan tidak berperikemanusiaan lainnya). Kebebasan dan kemerdekaan ini pada hakikatnya memiliki batasan yang disebut dengan kebenaran. Maka manusia, walaupun tidak tunduk pada sesuatu apapun dari dunia di sekelilingnya, ia tetap harus tunduk pada kebenaran (pengabdian dan penyembahan).
Jadi kebenaran “ridho-Nya” merupakan tujuan hidup yang sebenarnya. Konsekuensi logis yang akan muncul adalah adanya tuntutan untuk melakukan pengabdian pada sang pemilik kebenaran mutlak dengan ikhlas agar mencapai kebenaran itu sendiri, dan keikhlasan akan mustahil adanya tanpa sebuah kemerdekaan.
“padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.” (QS. Al Lail; 19-21).
Semangat tauhid (pengabdian hanya kepada Tuhan YME) menimbulkan kesatuan tujuan hidup, kesatuan kepribadian dan kemasyarakatan. Kehidupan bertauhid tidak lagi berat sebelah, parsial dan terbatas. Manusia bertauhid adalah manusia yang sejati dan sempurna yang kesadaran akan dirinya tidak mengenal batas. Maka sirnalah batasan-batasan, sakralisasi-sakralisasi, dan fanatisme buta, terhadap materi, benda, suku, bangsa, organisasi, partai dan sebagainya.
Manusia yang bertauhid adalah manusia yang berperikemanusiaan, maka sebagai perwujudannya manusia yang bertauhid ini akan melaksanakan kerja-kerja kemanusian yang berupa amal shaleh, bentuknya bisa berupa usaha untuk menciptakan kebaikan, keindahan dan kenyamanan bagi sesama manusia (universal brotherhood).
Manusia yang bertauhid (berketuhanan YME) adalah manusia merdeka, ia tidak berbuat syirik, iapun bukan seorang musyrik. Ia tidak menggantungkan dirinya pada selain pemilik kebenaran mutlak “Tuhan”. Ia adalah manusia yang adil dan proporsional sehingga ia memandang sesuatu diluar dirinya selain Tuhan dengan pandangan yang wajar dan tidak berlebihan sehingga menghambakan diri lalu meniadakan kemerdekaannya sendiri. Oleh karenan itu dapat dipahami bahwa ketuhanan menimbulkan sikap adil kepada sesama manusia.
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An Nahl; 90).
Billahitaufik wal hidayah....
Langganan:
Postingan (Atom)

