Langit ketika itu masih gelap. Matahari juga masih bersembunyi di belahan bumi lain. Awan-awan seakan sempoyongan bergerak perlahan, angin bertiup malas. Hawa dingin yang kurang bersahabat menyergap, menambah jelas bayang-bayang pekat, menjadi gelap.
Di suatu tempat yang tak diketahui namanya, seorang lelaki tanggung tercekat, berdiri mematung entah berapa jam lamanya. Matanya nanar menatap sekelilingnya, sepertinya ia menantikan seseorang yang sangat ingin ditemuinya.
Langit masih saja gelap, dan kini kegelapan itu ditambah oleh berkumpulnya awan pekat. Di tempat itu sunyi senyap, tak ada suara lain selain detak jantung dan tarikan nafas lelaki itu.
Dari kejauhan, sebuah bayang berkelebat mendekat ke arah lelaki itu, bayang itu terlihat seperti seorang wanita, namun masih belum terlalu jelas karena jaraknya masih cukup jauh. Lelaki tadi berdiri tegap, mengumpulkan kembali energi yang hampir lenyap karena terlalu lama menunggu dalam sepi.
Selang beberapa waktu, awan mulai menjauh, angin kembali bertiup ramah, jangkrik yang sejak tadi berdiam menjerit sejadi-jadinya tanpa irama yang jelas. Lelaki tadi terlihat duduk berdua bersama seorang wanita, mereka berbincang cukup serius. Seperti sedang membicarakan masalah penting yang harus segera dicarikan solusinya.
Sesekali keduanya diam, menghela nafas panjang, dan terlihat mereka mengawasi sekelilingnya dengan penuh waspada. Gaya mereka bagai seorang buronan interpol kelas dunia. Mereka duduk tak tenang, seperti dikejar sesuatu.
Jangkrik masih menjerit nyaring, menjadi soundtrack dari apa yang mereka bicarakan. Kini terdengar pula gonggong anjing yang sangat panjang dan nyaring, menciptakan nuansa mencekam.
Kedua orang ini masih dalam obrolan mereka, tampak sesekali mengangguk, mengerutkan kening dan sesekali mereka terdengar bertengkar.
Senin, 12 Desember 2011
Senin, 28 November 2011
KESEHATAN DAN KSELAMATAN KERJA
PELAKSANAAN KESEHATAN dan KESELAMATAN KERJA
Di era golbalisasi menuntut pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di setiap tempat kerja termasuk di sektor kesehatan. Untuk itu kita perlu mengembangkan dan meningkatkan K3 disektor kesehatan dalam rangka menekan serendah mungkin risiko kecelakaan dan penyakit yang timbul akibat hubungan kerja, serta meningkatkan produktivitas dan efesiensi.
Dalam pelaksanaan pekerjaan sehari-hari karyawan/pekerja di sektor kesehatan tidak terkecuali di Rumah Sakit maupun perkantoran, akan terpajan dengan resiko bahaya di tempat kerjanya. Resiko ini bervariasi mulai dari yang paling ringan sampai yang paling berat tergantung jenis pekerjaannya.
Dari hasil penelitian di sarana kesehatan Rumah Sakit, sekitar 1.505 tenaga kerja wanita di Rumah Sakit Paris mengalami gangguan muskuloskeletal (16%) di mana 47% dari gangguan tersebut berupa nyeri di daerah tulang punggung dan pinggang. Dan dilaporkan juga pada 5.057 perawat wanita di 18 Rumah Sakit didapatkan 566 perawat wanita adanya hubungan kausal antara pemajanan gas anestesi dengan gejala neoropsikologi antara lain berupa mual, kelelahan, kesemutan, keram pada lengan dan tangan.
Di perkantoran, sebuah studi mengenai bangunan kantor modern di Singapura dilaporkan bahwa 312 responden ditemukan 33% mengalami gejala Sick Building Syndrome (SBS). Keluhan mereka umumnya cepat lelah 45%, hidung mampat 40%, sakit kepala 46%, kulit kemerahan 16%, tenggorokan kering 43%, iritasi mata 37%, lemah 31%.
Dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, pasal 23 mengenai kesehatan kerja disebutkan bahwa upaya kesehatan kerja wajib diseleng-garakan pada setiap tempat kerja, khususnya tempat kerja yang mempunyai resiko bahaya kesehatan yang besar bagi pekerja agar dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan diri sendiri dan masyarakat sekelilingnya, untuk memperoleh produktivitas kerja yang optimal, sejalan dengan program perlindungan tenaga kerja.
HAL-HAL YANG BERHUBUNGAN PELAKSANAAN K3 PERKANTORAN
Ada beberapa hal penting yang harus mendapatkan perhatian sehubungan dengan pelaksanaan K3 perkantoran, yang pada dasarnya harus memperhatikan 2 (dua) hal yaitu indoor dan outdoor, yang kalau diurai seperti dibawah ini :
• Konstruksi gedung beserta perlengkapannya dan operasionalisasinya terhadap bahaya kebakaran serta kode pelaksanaannya.
• Jaringan elektrik dan komunikasi.
• Kualitas udara.
• Kualitas pencahayaan.
• Kebisingan.
• Display unit (tata ruang dan alat).
• Hygiene dan sanitasi.
• Psikososial.
• Pemeliharaan dan penggunaan Komputer.
PERMASALAHAN K3 PERKANTORAN DAN REKOMENDASI
Konstruksi gedung :
• Disain arsitektur (aspek K3 diperhatikan mulai dari tahap perencanaan).
• Seleksi material, misalnya tidak menggunakan bahan yang membahayakan seperti asbes dll.
• Seleksi dekorasi disesuaikan dengan asas tujuannya misalnya penggunaan warna yang disesuaikan dengan kebutuhan.
• Tanda khusus dengan pewarnaan kontras/kode khusus untuk objek penting seperti perlengkapan alat pemadam kebakaran, tangga, pintu darurat dll. (peta petunjuk pada setiap ruangan/unit kerja/tempat yang strategis misalnya dekat lift dll, lampu darurat menuju exit door).
Kualitas Udara :
• Kontrol terhadap temperatur ruang dengan memasang termometer ruangan.
• Kontrol terhadap polusi
• Pemasangan “Exhaust Fan” (perlindungan terhadap kelembaban udara).
• Pemasangan stiker, poster “dilarang merokok”.
• Sistim ventilasi dan pengaturan suhu udara dalam ruang (lokasi udara masuk, ekstraksi udara, filtrasi, pembersihan dan pemeliharaan secara berkala filter AC) minimal setahun sekali, kontrol mikrobiologi serta distribusi udara untuk pencegahan penyakit “Legionairre Diseases “.
• Kontrol terhadap linkungan (kontrol di dalam/diluar kantor).
• Misalnya untuk indoor: penumpukan barang-barang bekas yang menimbulkan debu, bau dll.
• Outdoor: disain dan konstruksi tempat sampah yang memenuhi syarat kesehatan dan keselamatan, dll.
• Perencanaan jendela sehubungan dengan pergantian udara jika AC mati.
• Pemasangan fan di dalam lift.
Kualitas Pencahayaan (penting mengenali jenis cahaya) :
• Mengembangkan sistim pencahayaan yang sesuai dengan jenis pekerjaan untuk membantu menyediakan lingkungan kerja yang sehat dan aman. (secara berkala diukur dengan Luxs Meter)
• Membantu penampilan visual melalui kesesuaian warna, dekorasi dll.
• Menegembangkan lingkungan visual yang tepat untuk kerja dengan kombinasi cahaya (agar tidak terlalu cepat terjadinya kelelahan mata).
• Perencanaan jendela sehubungan dengan pencahayaan dalam ruang.
• Penggunaan tirai untuk pengaturan cahaya dengan memperhatikan warna yang digunakan.
• Penggunaan lampu emergensi (emergency lamp) di setiap tangga.
Jaringan elektrik dan komunikasi (penting agar bahaya dapat dikenali) :
Internal
• * Over voltage
• * Hubungan pendek
• * Induksi
• * Arus berlebih
• * Korosif kabel
• * Kebocoran instalasi
• * Campuran gas eksplosif
Eksternal
• * Faktor mekanik.
• * Faktor fisik dan kimia.
• * Angin dan pencahayaan (cuaca)
• * Binatang pengerat bisa menyebabkan kerusakan sehingga terjadi hubungan pendek.
• * Manusia yang lengah terhadap risiko dan SOP.
• * Bencana alam atau buatan manusia.
Rekomendasi Kesehatan dan Keselamatan Kerja Perkantoran
• Penggunaan central stabilizer untuk menghindari over/under voltage.
• Penggunaan stop kontak yang sesuai dengan kebutuhan (tidak berlebihan) hal ini untuk menghindari terjadinya hubungan pendek dan kelebihan beban.
• Pengaturan tata letak jaringan instalasi listrik termasuk kabel yang sesuai dengan syarat kesehatan dan keselamatan kerja.
• Perlindungan terhadap kabel dengan menggunakan pipa pelindung.
Kontrol terhadap kebisingan :
• Idealnya ruang rapat dilengkapi dengan dinding kedap suara.
• Di depan pintu ruang rapat diberi tanda ” harap tenang, ada rapat “.
• Dinding isolator khusus untuk ruang genset.
• Hak-hal lainnya sudah termasuk dalam perencanaan konstruksi gedung dan tata ruang.
Display unit (tata ruang dan letak) :
• Petunjuk disain interior supaya dapat bekerja fleksibel, fit, luas untuk perubahan posisi, pemeliharaan dan adaptasi.
• Konsep disain dan dan letak furniture (1 orang/2 m?).
• Ratio ruang pekerja dan alat kerja mulai dari tahap perencanaan.
• Perhatikan adanya bahaya radiasi, daerah gelombang elektromagnetik.
• Ergonomik aspek antara manusia dengan lingkungan kerjanya.
• Tempat untuk istirahat dan shalat.
• Pantry dilengkapi dengan lemari dapur.
• Ruang tempat penampungan arsip sementara.
• Workshop station (bengkel kerja).
Hygiene dan Sanitasi :
Ruang kerja
• Memelihara kebersihan ruang dan alat kerja serta alat penunjang kerja.
• Secara periodik peralatan/penunjang kerja perlu di up grade.
Toilet/Kamar mandi
• Disediakan tempat cuci tangan dan sabun cair.
• Membuat petunjuk-petunjuk mengenai penggunaan closet duduk, larangan berupa gambar dll.
• Penyediaan bak sampah yang tertutup.
• Lantai kamar mandi diusahakan tidak licin.
Kantin
• Memperhatikan personal hygiene bagi pramusaji (penggunaan tutup kepala, celemek, sarung tangan dll).
• Penyediaan air mengalir dan sabun cair.
• Lantai tetap terpelihara.
• Penyediaan makanan yang sehat dan bergizi seimbang. Pengolahannya tidak menggunakan minyak goreng secara berulang.
• Penyediaan bak sampah yang tertutup.
• Secara umum di setiap unit kerja dibuat poster yang berhubungan dengan pemeliharaan kebersihan lingkungan kerja.
Psikososial
• Petugas keamanan ditiap lantai.
• Reporting system (komunikasi) ke satuan pengamanan.
• Mencegah budaya kekerasan ditempat kerja yang disebabkan oleh :
1. Budaya nrimo.
2. Sistem pelaporan macet.
3. Ketakutan melaporkan.
4. Tidak tertarik/cuek dengan lingkungan sekitar.
• Semua hal diatas dapat diatasi melalui pembinaan mental dan spiritual secara berkala minimal sebulan sekali.
• Penegakan disiplin ditempat kerja.
• Olah raga di tempat kerja, sebelum memulai kerja.
• Menggalakkan olah raga setiap jumat.
Pemeliharaan
• Melakukan walk through survey tiap bulan/triwulan atau semester, dengan memperhitungkan risiko berdasarkan faktor-faktor konsekuensi, pajanan dan kemungkinan terjadinya.
• Melakukan corrective action apabila ada hal-hal yang tidak sesuai dengan ketentuan.
• Pelatihan tanggap darurat secara periodik bagi pegawai.
• Pelatihan investigasi terhadap kemungkinan bahaya bom/kebakaran/demostrasi/ bencana alam serta Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) bagi satuan pengaman.
Aspek K3 perkantoran (tentang penggunaan komputer)
• Pergunakan komputer secara sehat, benar dan nyaman :
• Hal-hal yang harus diperhatikan :
• Memanfaatkan kesepuluh jari.
• Istirahatkan mata dengan melihat kejauhan setiap 15-20 menit.
• Istirahat 5-10 menit tiap satu jam kerja.
• Lakukan peregangan.
• Sudut lampu 45 derajat.
• Hindari cahaya yang menyilaukan, cahaya datang harus dari belakang.
• Sudut pandang 15 derajat, jarak layar dengan mata 30 – 50 cm.
• Kursi ergonomis (adjusted chair).
• Jarak meja dengan paha 20 cm
• Senam waktu istirahat.
Rekomendasi untuk Kesehatan dan Keselamatan Kerja Perkantoran
• Perlu membuat leaflet/poster yang berhubungan dengan penggunaan komputer disetiap unit kerja.
• Mengusulkan pada Pusat Promosi Kesehatan untuk membuat poster/leaflet.
• Penggunaan komputer yang bebas radiasi (Liquor Crystal Display).
PENUTUP
Dalam pelaksanaan K3 perkantoran perlu memperhatikan 2(dua) hal penting yakni indoor dan outdoor. Baik perhatian terhadap konstruksi gedung beserta perlengkapannya dan operasionalisasinya terhadap bahaya kebakaran serta kode pelaksanannya maupun terhadap jaringan elektrik dan komunikasi, kualitas udara, kualitas pencahayaan, kebisingan, display unit (tata ruang dan alat), hygiene dan sanitasi, psikososial, pemeliharaan maupun aspek lain mengenai penggunaan komputer.
Di era golbalisasi menuntut pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di setiap tempat kerja termasuk di sektor kesehatan. Untuk itu kita perlu mengembangkan dan meningkatkan K3 disektor kesehatan dalam rangka menekan serendah mungkin risiko kecelakaan dan penyakit yang timbul akibat hubungan kerja, serta meningkatkan produktivitas dan efesiensi.
Dalam pelaksanaan pekerjaan sehari-hari karyawan/pekerja di sektor kesehatan tidak terkecuali di Rumah Sakit maupun perkantoran, akan terpajan dengan resiko bahaya di tempat kerjanya. Resiko ini bervariasi mulai dari yang paling ringan sampai yang paling berat tergantung jenis pekerjaannya.
Dari hasil penelitian di sarana kesehatan Rumah Sakit, sekitar 1.505 tenaga kerja wanita di Rumah Sakit Paris mengalami gangguan muskuloskeletal (16%) di mana 47% dari gangguan tersebut berupa nyeri di daerah tulang punggung dan pinggang. Dan dilaporkan juga pada 5.057 perawat wanita di 18 Rumah Sakit didapatkan 566 perawat wanita adanya hubungan kausal antara pemajanan gas anestesi dengan gejala neoropsikologi antara lain berupa mual, kelelahan, kesemutan, keram pada lengan dan tangan.
Di perkantoran, sebuah studi mengenai bangunan kantor modern di Singapura dilaporkan bahwa 312 responden ditemukan 33% mengalami gejala Sick Building Syndrome (SBS). Keluhan mereka umumnya cepat lelah 45%, hidung mampat 40%, sakit kepala 46%, kulit kemerahan 16%, tenggorokan kering 43%, iritasi mata 37%, lemah 31%.
Dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, pasal 23 mengenai kesehatan kerja disebutkan bahwa upaya kesehatan kerja wajib diseleng-garakan pada setiap tempat kerja, khususnya tempat kerja yang mempunyai resiko bahaya kesehatan yang besar bagi pekerja agar dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan diri sendiri dan masyarakat sekelilingnya, untuk memperoleh produktivitas kerja yang optimal, sejalan dengan program perlindungan tenaga kerja.
HAL-HAL YANG BERHUBUNGAN PELAKSANAAN K3 PERKANTORAN
Ada beberapa hal penting yang harus mendapatkan perhatian sehubungan dengan pelaksanaan K3 perkantoran, yang pada dasarnya harus memperhatikan 2 (dua) hal yaitu indoor dan outdoor, yang kalau diurai seperti dibawah ini :
• Konstruksi gedung beserta perlengkapannya dan operasionalisasinya terhadap bahaya kebakaran serta kode pelaksanaannya.
• Jaringan elektrik dan komunikasi.
• Kualitas udara.
• Kualitas pencahayaan.
• Kebisingan.
• Display unit (tata ruang dan alat).
• Hygiene dan sanitasi.
• Psikososial.
• Pemeliharaan dan penggunaan Komputer.
PERMASALAHAN K3 PERKANTORAN DAN REKOMENDASI
Konstruksi gedung :
• Disain arsitektur (aspek K3 diperhatikan mulai dari tahap perencanaan).
• Seleksi material, misalnya tidak menggunakan bahan yang membahayakan seperti asbes dll.
• Seleksi dekorasi disesuaikan dengan asas tujuannya misalnya penggunaan warna yang disesuaikan dengan kebutuhan.
• Tanda khusus dengan pewarnaan kontras/kode khusus untuk objek penting seperti perlengkapan alat pemadam kebakaran, tangga, pintu darurat dll. (peta petunjuk pada setiap ruangan/unit kerja/tempat yang strategis misalnya dekat lift dll, lampu darurat menuju exit door).
Kualitas Udara :
• Kontrol terhadap temperatur ruang dengan memasang termometer ruangan.
• Kontrol terhadap polusi
• Pemasangan “Exhaust Fan” (perlindungan terhadap kelembaban udara).
• Pemasangan stiker, poster “dilarang merokok”.
• Sistim ventilasi dan pengaturan suhu udara dalam ruang (lokasi udara masuk, ekstraksi udara, filtrasi, pembersihan dan pemeliharaan secara berkala filter AC) minimal setahun sekali, kontrol mikrobiologi serta distribusi udara untuk pencegahan penyakit “Legionairre Diseases “.
• Kontrol terhadap linkungan (kontrol di dalam/diluar kantor).
• Misalnya untuk indoor: penumpukan barang-barang bekas yang menimbulkan debu, bau dll.
• Outdoor: disain dan konstruksi tempat sampah yang memenuhi syarat kesehatan dan keselamatan, dll.
• Perencanaan jendela sehubungan dengan pergantian udara jika AC mati.
• Pemasangan fan di dalam lift.
Kualitas Pencahayaan (penting mengenali jenis cahaya) :
• Mengembangkan sistim pencahayaan yang sesuai dengan jenis pekerjaan untuk membantu menyediakan lingkungan kerja yang sehat dan aman. (secara berkala diukur dengan Luxs Meter)
• Membantu penampilan visual melalui kesesuaian warna, dekorasi dll.
• Menegembangkan lingkungan visual yang tepat untuk kerja dengan kombinasi cahaya (agar tidak terlalu cepat terjadinya kelelahan mata).
• Perencanaan jendela sehubungan dengan pencahayaan dalam ruang.
• Penggunaan tirai untuk pengaturan cahaya dengan memperhatikan warna yang digunakan.
• Penggunaan lampu emergensi (emergency lamp) di setiap tangga.
Jaringan elektrik dan komunikasi (penting agar bahaya dapat dikenali) :
Internal
• * Over voltage
• * Hubungan pendek
• * Induksi
• * Arus berlebih
• * Korosif kabel
• * Kebocoran instalasi
• * Campuran gas eksplosif
Eksternal
• * Faktor mekanik.
• * Faktor fisik dan kimia.
• * Angin dan pencahayaan (cuaca)
• * Binatang pengerat bisa menyebabkan kerusakan sehingga terjadi hubungan pendek.
• * Manusia yang lengah terhadap risiko dan SOP.
• * Bencana alam atau buatan manusia.
Rekomendasi Kesehatan dan Keselamatan Kerja Perkantoran
• Penggunaan central stabilizer untuk menghindari over/under voltage.
• Penggunaan stop kontak yang sesuai dengan kebutuhan (tidak berlebihan) hal ini untuk menghindari terjadinya hubungan pendek dan kelebihan beban.
• Pengaturan tata letak jaringan instalasi listrik termasuk kabel yang sesuai dengan syarat kesehatan dan keselamatan kerja.
• Perlindungan terhadap kabel dengan menggunakan pipa pelindung.
Kontrol terhadap kebisingan :
• Idealnya ruang rapat dilengkapi dengan dinding kedap suara.
• Di depan pintu ruang rapat diberi tanda ” harap tenang, ada rapat “.
• Dinding isolator khusus untuk ruang genset.
• Hak-hal lainnya sudah termasuk dalam perencanaan konstruksi gedung dan tata ruang.
Display unit (tata ruang dan letak) :
• Petunjuk disain interior supaya dapat bekerja fleksibel, fit, luas untuk perubahan posisi, pemeliharaan dan adaptasi.
• Konsep disain dan dan letak furniture (1 orang/2 m?).
• Ratio ruang pekerja dan alat kerja mulai dari tahap perencanaan.
• Perhatikan adanya bahaya radiasi, daerah gelombang elektromagnetik.
• Ergonomik aspek antara manusia dengan lingkungan kerjanya.
• Tempat untuk istirahat dan shalat.
• Pantry dilengkapi dengan lemari dapur.
• Ruang tempat penampungan arsip sementara.
• Workshop station (bengkel kerja).
Hygiene dan Sanitasi :
Ruang kerja
• Memelihara kebersihan ruang dan alat kerja serta alat penunjang kerja.
• Secara periodik peralatan/penunjang kerja perlu di up grade.
Toilet/Kamar mandi
• Disediakan tempat cuci tangan dan sabun cair.
• Membuat petunjuk-petunjuk mengenai penggunaan closet duduk, larangan berupa gambar dll.
• Penyediaan bak sampah yang tertutup.
• Lantai kamar mandi diusahakan tidak licin.
Kantin
• Memperhatikan personal hygiene bagi pramusaji (penggunaan tutup kepala, celemek, sarung tangan dll).
• Penyediaan air mengalir dan sabun cair.
• Lantai tetap terpelihara.
• Penyediaan makanan yang sehat dan bergizi seimbang. Pengolahannya tidak menggunakan minyak goreng secara berulang.
• Penyediaan bak sampah yang tertutup.
• Secara umum di setiap unit kerja dibuat poster yang berhubungan dengan pemeliharaan kebersihan lingkungan kerja.
Psikososial
• Petugas keamanan ditiap lantai.
• Reporting system (komunikasi) ke satuan pengamanan.
• Mencegah budaya kekerasan ditempat kerja yang disebabkan oleh :
1. Budaya nrimo.
2. Sistem pelaporan macet.
3. Ketakutan melaporkan.
4. Tidak tertarik/cuek dengan lingkungan sekitar.
• Semua hal diatas dapat diatasi melalui pembinaan mental dan spiritual secara berkala minimal sebulan sekali.
• Penegakan disiplin ditempat kerja.
• Olah raga di tempat kerja, sebelum memulai kerja.
• Menggalakkan olah raga setiap jumat.
Pemeliharaan
• Melakukan walk through survey tiap bulan/triwulan atau semester, dengan memperhitungkan risiko berdasarkan faktor-faktor konsekuensi, pajanan dan kemungkinan terjadinya.
• Melakukan corrective action apabila ada hal-hal yang tidak sesuai dengan ketentuan.
• Pelatihan tanggap darurat secara periodik bagi pegawai.
• Pelatihan investigasi terhadap kemungkinan bahaya bom/kebakaran/demostrasi/ bencana alam serta Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) bagi satuan pengaman.
Aspek K3 perkantoran (tentang penggunaan komputer)
• Pergunakan komputer secara sehat, benar dan nyaman :
• Hal-hal yang harus diperhatikan :
• Memanfaatkan kesepuluh jari.
• Istirahatkan mata dengan melihat kejauhan setiap 15-20 menit.
• Istirahat 5-10 menit tiap satu jam kerja.
• Lakukan peregangan.
• Sudut lampu 45 derajat.
• Hindari cahaya yang menyilaukan, cahaya datang harus dari belakang.
• Sudut pandang 15 derajat, jarak layar dengan mata 30 – 50 cm.
• Kursi ergonomis (adjusted chair).
• Jarak meja dengan paha 20 cm
• Senam waktu istirahat.
Rekomendasi untuk Kesehatan dan Keselamatan Kerja Perkantoran
• Perlu membuat leaflet/poster yang berhubungan dengan penggunaan komputer disetiap unit kerja.
• Mengusulkan pada Pusat Promosi Kesehatan untuk membuat poster/leaflet.
• Penggunaan komputer yang bebas radiasi (Liquor Crystal Display).
PENUTUP
Dalam pelaksanaan K3 perkantoran perlu memperhatikan 2(dua) hal penting yakni indoor dan outdoor. Baik perhatian terhadap konstruksi gedung beserta perlengkapannya dan operasionalisasinya terhadap bahaya kebakaran serta kode pelaksanannya maupun terhadap jaringan elektrik dan komunikasi, kualitas udara, kualitas pencahayaan, kebisingan, display unit (tata ruang dan alat), hygiene dan sanitasi, psikososial, pemeliharaan maupun aspek lain mengenai penggunaan komputer.
Sabtu, 29 Oktober 2011
MEMOAR KULIAH KERJA NYATA di PANGGUNG REJO BLITAR
Udara dingin dusun Kalibentak desa Panggung Rejo pagi itu memaksa kami untuk terjaga dari lelap tidur. Semburat cahaya keemasan dari ufuk timur beradu dengan ibu-ibu desa yang bergegas menuju pasar Pon di jalan setapak tak jauh dari sebuah Bank milik pemerintah.
Hari masih terlalu pagi ketika beberapa teman satu kelompokku sudah mengantri giliran mandi. Sebagian yang lain turut berpartisipasi bersama ibu-ibu tadi meramaikan pasar desa yang hanya buka setiap Pon itu. Mereka yang hanya dengan cuci muka sekedarnya mendatangi pasar dengan penuh percaya diri. Aku sendiri pernah satu kali ke pasar itu, disana dijual beraneka macam barang mulai dari sembako hingga pakaian serta tak ketinggalan peralatan pertanian.
Sinar itu semakin garang, memaksa titik-titik embun menguap dari tempatnya, meninggalkan daun-daun yang perlahan mulai menunjukkan gejala layu. “Sudah hampir empat bulan di sini tak turun hujan” demikian kata salah seorang warga ketika kutanya.
Gerahnya udara ketika siang karena hujan tak kunjung turun, berubah menjadi asri karena terobati oleh keramahan warga di desa ini. Hal ini salah satu yang sulit kulupakan.
Tak terasa sudah hampir seminggu aku di desa ini. Bersama 20 orang temanku yang lain. Kami adalah mahasiswa Kuliah kerja Nyata (KKN) Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang.
Ketika malam kami dihadirkan sebuah pemandangan yang indah, puluhan layang-layang raksasa dengan lampu beraneka rupa menghiasi langit nan cerah. Beradu dengan bintang yang berkedip riang, didukung hembusan angin yang tak kunjung diam.
Malam berlalu, siang pun berganti hingga tiba lah kami di penghujung hari pelaksanaan KKN ini. Banyak dinamika telah kami lalui, banyak hal telah dilewati. Banyak pelajaran dan hikmah yang bisa kami resapi, mulai dari hal sederhana seperti mengantri mandi, hingga bagaimana memaksa diri agar tak kalah oleh rasa grogi ketika berbicara didepan warga.
Dikelompok, kami secara tak langsung diajarkan untuk saling bertoleransi, saling memahami dan menekan ego pribadi. Diberikan pemahaman tentang bekerja sama, dan merumuskan kegiatan yang bertujuan mengabdikan diri pada masyarakat.
Sungguh bagiku momentum KKN menghadirkan kenangan indah yang sulit dilupakan. Hingga hari ini, tiba-tiba aku merasakan kerinduan yang sangat akan kebersamaan itu. Bercanda bersama dengan teman-teman dari latar belakang budaya berbeda, dan mengenal pribadi-pribadi luar biasa dengan karakter masing-masing.
Hari masih terlalu pagi ketika beberapa teman satu kelompokku sudah mengantri giliran mandi. Sebagian yang lain turut berpartisipasi bersama ibu-ibu tadi meramaikan pasar desa yang hanya buka setiap Pon itu. Mereka yang hanya dengan cuci muka sekedarnya mendatangi pasar dengan penuh percaya diri. Aku sendiri pernah satu kali ke pasar itu, disana dijual beraneka macam barang mulai dari sembako hingga pakaian serta tak ketinggalan peralatan pertanian.
Sinar itu semakin garang, memaksa titik-titik embun menguap dari tempatnya, meninggalkan daun-daun yang perlahan mulai menunjukkan gejala layu. “Sudah hampir empat bulan di sini tak turun hujan” demikian kata salah seorang warga ketika kutanya.
Gerahnya udara ketika siang karena hujan tak kunjung turun, berubah menjadi asri karena terobati oleh keramahan warga di desa ini. Hal ini salah satu yang sulit kulupakan.
Tak terasa sudah hampir seminggu aku di desa ini. Bersama 20 orang temanku yang lain. Kami adalah mahasiswa Kuliah kerja Nyata (KKN) Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang.
Ketika malam kami dihadirkan sebuah pemandangan yang indah, puluhan layang-layang raksasa dengan lampu beraneka rupa menghiasi langit nan cerah. Beradu dengan bintang yang berkedip riang, didukung hembusan angin yang tak kunjung diam.
Malam berlalu, siang pun berganti hingga tiba lah kami di penghujung hari pelaksanaan KKN ini. Banyak dinamika telah kami lalui, banyak hal telah dilewati. Banyak pelajaran dan hikmah yang bisa kami resapi, mulai dari hal sederhana seperti mengantri mandi, hingga bagaimana memaksa diri agar tak kalah oleh rasa grogi ketika berbicara didepan warga.
Dikelompok, kami secara tak langsung diajarkan untuk saling bertoleransi, saling memahami dan menekan ego pribadi. Diberikan pemahaman tentang bekerja sama, dan merumuskan kegiatan yang bertujuan mengabdikan diri pada masyarakat.
Sungguh bagiku momentum KKN menghadirkan kenangan indah yang sulit dilupakan. Hingga hari ini, tiba-tiba aku merasakan kerinduan yang sangat akan kebersamaan itu. Bercanda bersama dengan teman-teman dari latar belakang budaya berbeda, dan mengenal pribadi-pribadi luar biasa dengan karakter masing-masing.
Senin, 17 Oktober 2011
HANYA MENGAKU MAHASISWA
Pagi hari tak terdengar kokok ayam seperti di desa. Hanya kumandang azan yang ramai sekali, bersahutan dari mesjid ke mesjid, dari mushola ke mushola. Lebih pagi lagi ketika bola raksasa berwarna keemasan mulai menampakkan ronanya, menghiasi angkasa di ufuk timur, menciptakan keindahan tiada tara. Aku terkesima hampir beberapa menit mengamati pertunjukan alam yang dipersembahkan untukku.
Jalan Tlogo Mas kembali ramai ketika pagi hari, hilir mudik kendaraan seperti aliran sungai tak pernah berhenti, sehingga kakek-kakek dan anak-anak yang ingin mnenyeberang jalan harus meminta bantuan satpam atau tukang parkir.
Beberapa anak muda yang mengaku mahasiswa baru bangun tidur, mengusap-usap matanya dengan tatapan kosong dan fikiran melayang. Sembari menggeliatkan badan, tangannya mencari hand phone. Melihat jam 8 pagi selimut ditariknya lagi, tidur dilanjutkan tak peduli orang lain sudah sibuk dengan kegiatannya, tak mau ambil tau orang lain sudah mencipta karya, tak acuh dengan pepatah bangun pagi banyak rezeki, bangun siang rezeki diambil ayam.
Beberapa anak muda lain yang mengaku mahasiswa berbondong mengunjungi sebuah bangunan yang bertulis “warnet”. “Mau kerjakan tugas” salah seorang dari mereka berkata. Sibuk browsing, klik sana sini mencari referensi seperti judul tugas yang diberi dosen. “Ah, bikin lama, repot, copy paste saja” terdengar bisik diantara mereka.
Di sudut salah satu kamar yang sepi, nyaris tak ada suara. Seorang anak muda memegang sebuah buku, matanya menatap lekat setiap baris kalimat yang tertera. Sesekali dahinya mengernyit, kemudian membuat catatan kecil berisi poin penting dari yang ia baca, ia tak perduli dengan keadaan sekelilingnya, tak tanggap akan perubahan sosial lingkungannya. Baginya nilai “A” adalah harga mati, anak muda ini juga mengaku mahasiswa.
Beberapa waktu yang lalu mereka yang mengaku mahasiswa berunjuk rasa, meneriakkan kata-kata cerdas dengan suara nyaring. Katanya “Kita harus perhatikan nasib rakyat kecil, kaum lemah dan tertindas, pemerintah tak boleh berlaku seenaknya, ini masalah keadilan” begitu lantang suaranya.
Yang lain ikut menambahkan “Coba perhatikan berapa banyak warga yang akan kehilangan pekerjaan dan otomatis menjadi pengangguran, siapa yang harus menanggung ini semua?” tak kalah lantang. Mereka sangat berani, bersemangat namun biasanya kuliah tak selesai.
Di lain tempat, mereka yang mengaku mahasiswa berkumpul, duduk rapat dengan kaki sedikit ditekuk, karena ruangan yang sempit seolah menjadi sesak. Mereka membicarakan macam-macam hal, seolah seperti orang pintar, berlagak serba tahu dengan gaya bicara dibuat-buat. Namun kadang tanpa referensi yang jelas, sehingga tak terarah. Mereka betah ber jam-jam, dan tak jarang hingga larut malam.
Di tempat ini suasananya beda, mereka yang juga ingin disebut mahasiswa berkumpul. Duduk bersama dengan riang gembira, menyanyi dengan diiringi sebuah gitar lapuk. Sesekali meneguk minuman berbau menyengat dari botol kaca. Bungkus makanan ringan berserakan, abu-abu rokok bertaburan. Mata mereka memerah, tapi tawanya semakin nyaring. Mereka tak perduli dengan orang lain, tak perduli dengan aturan RT, bahkan tak perduli dengan diri sendiri. Tragis.
Di tikungan jalan berdiri sebuah bangunan megah, di dalamnya dua orang tua yang mengaku anaknya mahasiswa bercerita dengan bangga. “Anakku sebentar lagi di wisuda, ia akan jadi sarjana seper ti aku” ujarnya dengan senyum mengembang.
Jauh di ujung desa, dua orang suami istri yang sudah renta juga bercerita. Mereka menceritakan anaknya yang katanya adalah mahasiswa. “Sebentar lagi anak kita diwisuda, bapak benar-benar bangga padanya” ucapnya dengan terisak karena tangis bahagia.
Selesai menulis catatan ini, benakku bertanya, "Seperti apa mahasiswa sesungguhnya?".............
Jalan Tlogo Mas kembali ramai ketika pagi hari, hilir mudik kendaraan seperti aliran sungai tak pernah berhenti, sehingga kakek-kakek dan anak-anak yang ingin mnenyeberang jalan harus meminta bantuan satpam atau tukang parkir.
Beberapa anak muda yang mengaku mahasiswa baru bangun tidur, mengusap-usap matanya dengan tatapan kosong dan fikiran melayang. Sembari menggeliatkan badan, tangannya mencari hand phone. Melihat jam 8 pagi selimut ditariknya lagi, tidur dilanjutkan tak peduli orang lain sudah sibuk dengan kegiatannya, tak mau ambil tau orang lain sudah mencipta karya, tak acuh dengan pepatah bangun pagi banyak rezeki, bangun siang rezeki diambil ayam.
Beberapa anak muda lain yang mengaku mahasiswa berbondong mengunjungi sebuah bangunan yang bertulis “warnet”. “Mau kerjakan tugas” salah seorang dari mereka berkata. Sibuk browsing, klik sana sini mencari referensi seperti judul tugas yang diberi dosen. “Ah, bikin lama, repot, copy paste saja” terdengar bisik diantara mereka.
Di sudut salah satu kamar yang sepi, nyaris tak ada suara. Seorang anak muda memegang sebuah buku, matanya menatap lekat setiap baris kalimat yang tertera. Sesekali dahinya mengernyit, kemudian membuat catatan kecil berisi poin penting dari yang ia baca, ia tak perduli dengan keadaan sekelilingnya, tak tanggap akan perubahan sosial lingkungannya. Baginya nilai “A” adalah harga mati, anak muda ini juga mengaku mahasiswa.
Beberapa waktu yang lalu mereka yang mengaku mahasiswa berunjuk rasa, meneriakkan kata-kata cerdas dengan suara nyaring. Katanya “Kita harus perhatikan nasib rakyat kecil, kaum lemah dan tertindas, pemerintah tak boleh berlaku seenaknya, ini masalah keadilan” begitu lantang suaranya.
Yang lain ikut menambahkan “Coba perhatikan berapa banyak warga yang akan kehilangan pekerjaan dan otomatis menjadi pengangguran, siapa yang harus menanggung ini semua?” tak kalah lantang. Mereka sangat berani, bersemangat namun biasanya kuliah tak selesai.
Di lain tempat, mereka yang mengaku mahasiswa berkumpul, duduk rapat dengan kaki sedikit ditekuk, karena ruangan yang sempit seolah menjadi sesak. Mereka membicarakan macam-macam hal, seolah seperti orang pintar, berlagak serba tahu dengan gaya bicara dibuat-buat. Namun kadang tanpa referensi yang jelas, sehingga tak terarah. Mereka betah ber jam-jam, dan tak jarang hingga larut malam.
Di tempat ini suasananya beda, mereka yang juga ingin disebut mahasiswa berkumpul. Duduk bersama dengan riang gembira, menyanyi dengan diiringi sebuah gitar lapuk. Sesekali meneguk minuman berbau menyengat dari botol kaca. Bungkus makanan ringan berserakan, abu-abu rokok bertaburan. Mata mereka memerah, tapi tawanya semakin nyaring. Mereka tak perduli dengan orang lain, tak perduli dengan aturan RT, bahkan tak perduli dengan diri sendiri. Tragis.
Di tikungan jalan berdiri sebuah bangunan megah, di dalamnya dua orang tua yang mengaku anaknya mahasiswa bercerita dengan bangga. “Anakku sebentar lagi di wisuda, ia akan jadi sarjana seper ti aku” ujarnya dengan senyum mengembang.
Jauh di ujung desa, dua orang suami istri yang sudah renta juga bercerita. Mereka menceritakan anaknya yang katanya adalah mahasiswa. “Sebentar lagi anak kita diwisuda, bapak benar-benar bangga padanya” ucapnya dengan terisak karena tangis bahagia.
Selesai menulis catatan ini, benakku bertanya, "Seperti apa mahasiswa sesungguhnya?".............
Senin, 10 Oktober 2011
Menjadi Orang Sukses
HANYA ORANG YANG TAK PERNAH MENYERAH YANG AKAN JADI PEMENANG
Sesungguhnya tiada kesuksesan tanpa melalui sebuah perjuangan yang besar. Dan nanti akan berbuah indah pada waktunya, tentu saja jika semuanya bisa dilalui dengan sabar, iklas dan penuh tanggung jawab. Kedisiplinan adalah nilai yang tak boleh ditawar lagi dalam menuju sukses. Kedisiplinan akan selalu berbanding lurus dengan keberhasilan seseorang. Adalah hal mustahil seorang yang tak disiplin bisa mencapai kesuksesan. Ombak yang tenang tak akan menghasilkan pelaut yang tangguh. Dan hal-hal yang bagi sebagian orang adalah membahayakan, bagi pemenang itu adalah tantangan. Maka orang sukses bukan orang yang menghindari masalah, tapi ia adalah orang yang pandai menghadirkan solusi dari setiap permasalahan yang muncul.
Namun perlu disadri, bahwa banyak orang yang merencanakan untuk sukses tanpa dibarengi dengan action untuk mencapai sukses itu sendiri. Sehingga rencana hanya sebatas rencana dan wacana yang tak lebih dari sekedar pemanis bibir. Pastilah berbeda dengan orang yang benar-benar serius dalam mencapai kesusksesannya. Mereka akan mulai bergerak walau selangkah, perlahan namun pasti dan penuh rasa percaya diri.
Telah banyak orang yang memimpikan kesuksesan 10 tahun yang lalu. Tak sedikit pula orang yang mendambakan keberhasilan mereka di usia muda. Namun mereka tak berubah nasibnya seperti ketika mereka mengucapakn kata "Aku harus berhasil 10 tahun lagi". Berbeda mdengan orang-orang yang mengatakan "Aku ingin sukses" dan mereka membarengi ucapannya dengan kerja keras, disiplin dan fokus pada apa yang diimpikannya saat itu juga tanpa pernah menunda waktu.
Walaupun memang kesuksesan adalah hal yang relatif dan bersifat persepsi, namun harus disadari bahwa kesuksesan intinya adalah keberhasilan seseorang mencapai tujuannya.
Sesungguhnya tiada kesuksesan tanpa melalui sebuah perjuangan yang besar. Dan nanti akan berbuah indah pada waktunya, tentu saja jika semuanya bisa dilalui dengan sabar, iklas dan penuh tanggung jawab. Kedisiplinan adalah nilai yang tak boleh ditawar lagi dalam menuju sukses. Kedisiplinan akan selalu berbanding lurus dengan keberhasilan seseorang. Adalah hal mustahil seorang yang tak disiplin bisa mencapai kesuksesan. Ombak yang tenang tak akan menghasilkan pelaut yang tangguh. Dan hal-hal yang bagi sebagian orang adalah membahayakan, bagi pemenang itu adalah tantangan. Maka orang sukses bukan orang yang menghindari masalah, tapi ia adalah orang yang pandai menghadirkan solusi dari setiap permasalahan yang muncul.
Namun perlu disadri, bahwa banyak orang yang merencanakan untuk sukses tanpa dibarengi dengan action untuk mencapai sukses itu sendiri. Sehingga rencana hanya sebatas rencana dan wacana yang tak lebih dari sekedar pemanis bibir. Pastilah berbeda dengan orang yang benar-benar serius dalam mencapai kesusksesannya. Mereka akan mulai bergerak walau selangkah, perlahan namun pasti dan penuh rasa percaya diri.
Telah banyak orang yang memimpikan kesuksesan 10 tahun yang lalu. Tak sedikit pula orang yang mendambakan keberhasilan mereka di usia muda. Namun mereka tak berubah nasibnya seperti ketika mereka mengucapakn kata "Aku harus berhasil 10 tahun lagi". Berbeda mdengan orang-orang yang mengatakan "Aku ingin sukses" dan mereka membarengi ucapannya dengan kerja keras, disiplin dan fokus pada apa yang diimpikannya saat itu juga tanpa pernah menunda waktu.
Walaupun memang kesuksesan adalah hal yang relatif dan bersifat persepsi, namun harus disadari bahwa kesuksesan intinya adalah keberhasilan seseorang mencapai tujuannya.
Selasa, 26 Juli 2011
Catatan Tak Tentu
Sebuah nyanyian indah nan syahdu, mengalir dari sudut ruang gelap di lorong sempit. Mata-mata terkesiap dan kuping-kuping tercekat mendengarnya. Ia adalah nyanyian sepenuh jiwa, yang dilantunkan oleh seorang yang sedang dirundung duka nestapa.
Pagi itu aku bangun kesiangan, ketika kulihat dia sudah siap dengan seragam barunya. Tampak semangat sekali, aku tercenung sesaat sambil mengucek mata, kulirik dia. Jas yang dikenankannya tampak kebesaran, dan celana hitam pekat itu pun terlihat agak panjang. "Ada apa liat-liat?" tanyanya. "Enggak, bagus" celetukku seraya bergegas menuju kamar mandi dan mencuci muka.
Pagi itu aku bangun kesiangan, ketika kulihat dia sudah siap dengan seragam barunya. Tampak semangat sekali, aku tercenung sesaat sambil mengucek mata, kulirik dia. Jas yang dikenankannya tampak kebesaran, dan celana hitam pekat itu pun terlihat agak panjang. "Ada apa liat-liat?" tanyanya. "Enggak, bagus" celetukku seraya bergegas menuju kamar mandi dan mencuci muka.
Minggu, 19 Juni 2011
Inspirasi
Jika Anda menginginkan sesuatu yang belum pernah anda miliki, Anda harus bersedia melakukan sesuatu yang belum pernah Anda lakukan.(Thomas Jefferson).
Dalam kehidupan ini kita tidak dapat selalu melakukan hal yang besar. Tetapi kita dapat melakukan banyak hal kecil dengan cinta yang besar (Mother Teresa)
Cara memulai adalah dengan berhenti berbicara dan mulai melakukan (Walt Disney.
Niat adalah ukuran dalam menilai benarnya suatu perbuatan, oleh karenanya, ketika niatnya benar, maka perbuatan itu benar, dan jika niatnya buruk, maka perbuatan itu buruk. ~ Imam An Nawawi
Dalam kehidupan ini kita tidak dapat selalu melakukan hal yang besar. Tetapi kita dapat melakukan banyak hal kecil dengan cinta yang besar (Mother Teresa)
Cara memulai adalah dengan berhenti berbicara dan mulai melakukan (Walt Disney.
Niat adalah ukuran dalam menilai benarnya suatu perbuatan, oleh karenanya, ketika niatnya benar, maka perbuatan itu benar, dan jika niatnya buruk, maka perbuatan itu buruk. ~ Imam An Nawawi
Langganan:
Postingan (Atom)